Jumat, 04 Januari 2013

Catatan Kecil Dari Hati #Part II

“Kamu masih mencarinya?”
“Siapa?”
“Pencuri rusukmu.”
“Oh… Tidak.”
“Jadi?”
“Aku selesai.”
“Kamu berhenti mencari?”
“Aku menunggu saja. Menunggu ia tiba. Menantikan ia datang dengan semangat perubahan. Aku tak pasif tentu saja. Hanya menyadari. Awal dari segala hal adalah doa. Tombaknya usaha. Kulepaskan ia dalam perbaikan menuju cinta-Nya.”
“Kenapa?”
“Ibarat mobil, aku membiarkan kemudi di tangan yang tepat. Aku tak bisa memaksakan siapa pun harus segera menjalankannya. Ia mestilah punya keinginan untuk menjalankannya. Ia pun mestilah memiliki syarat yang cukup untuk menjadi sopir yang baik. Minimal dia lulus uji. Punya SIM. Fokus ke depan. Bukan melulu ke masa lalu yang bisa ia lihat sesekali lewat kaca spion..”
“Hmm… Sudahkah kamu temukan yang seperti itu?”
“Kita seringkali jatuh hati pada orang-orang yang senantiasa berbuat kebaikan. Semoga jika pun aku nanti jatuh hati, dia kelak akan menjadi pengemudi yang baik, yang bisa menjagaku dan keluarga kami kelak dari api neraka, yang tak sekadar selamat di perjalanan menuju terminal, tapi juga hingga kelak ke tempat paling abadi.”
“Aamiin… Dan semoga orang itu aku..”
“Kamu?”
“Kamu tahu itu…”

Catatan Kecil Dari Hati

Standing there, watching you.
Dulu, aku tidak menyangka aku akan sejauh ini denganmu.
Dulu, aku tidak menyangka kamu akan sedekat ini dengan mereka.
Dulu, aku tidak menyangka bagaimana waktu memisahkan kita.
Dulu, aku tidak percaya waktu akan mengubah kita.
Kamu yang sekarang, jelas bukan kamu yang dulu.
(…kamu yang lucu, bersahabat, sopan, dekat denganku…)
Dan aku yang sekarang, mungkin saja bukan aku yang dulu.
I’m still standing there, watching you. Remembering you. Dengan senyuman tipis di bibirku, aku melangkah pergi dan menyeka air mataku.

Kamis, 20 Desember 2012

tentang rasaa ...


Bagaimana jika pada akhirnya yang kupilih bukan kamu, tapi dia?
Bagaimana jika pada akhirnya yang kupinta untuk melengkapiku bukan kamu, tapi dia?
Bagaimana jika pada akhirnya persahabatan bertahun-tahun kita tergantikan oleh hadirnya?
Bagaimana jika pada akhirnya kita saling melepaskan tanpa banyak penjelasan? Aku pergi, punggungmu menjauh, tak banyak kata, tapi hati kita tahu bahwa semua sudah selesai. Usai.
Bagaimana jika pada akhirnya aku dan kamu kembali menjadi diri sendiri, tanpa sempat mendefisikan kata “kita” menjadi nyata? Aku menundukan mukaku. Kamu menghapus sisa hujan di matamu. 
Maafkan aku. Ternyata beginilah kemungkinan yang memungkinkan. Kita berandai pada keputusan sulit yang sedang kita pelajari jawabannya pada hati sendiri. Anggap ini terapi. Belajarlah untuk menerima, juga meyakini. Akan ada selalu yang terbaik untuk setiap perjalanan, baik jiwa ataupun rasa…

Sabtu, 20 Oktober 2012

20 oktavia , 20 tahun :')

20 oktober ...

Tuhan .. kali ini umurku genap 20 tahun , menginjak kepala dua menjalani cobaan yang pasti jauh lebih berat demi menguji kedewasaanku ..
Ulang tahun kali ini benar-benar mengesankan ..
tepat malam itu dapet ucapan dari mama sama ayah , hal yang gak pernah aku dapetin di ultah2 sebelumnya .. hal yang bikin terharu tuh pas mama bilang "Anakku ulang tahun yaa ? selamat ulang tahun sayang maaf yaa belum bisa ngasi kado .. mama belum punya uang" iyuuuhh .. nangis seketika ni mata :')
abis itu ayah nyanyi lagu happy birthday "mau minta kado apa ? mau makan dimana ?"
Oh tuhaan ... berasa kayak jadi anak tunggal ... minta ini itu dituruti (mesti cuma 1 hari doang) haha ..
ucapan dari mbak ayu pas bangun tidur , temen temen dikampus :) terimakasih buat semuanyaaa ....
Tapiii ............................
dari semua ucapan hari itu , kenapa gak ada ucapan dari kamu ? pacarku !
sibukkah ? ato lupa ?
seharian onlen , berharap ada pesan singkat yang singgah di dinding facebookku dari kamu ..
seharian matengin hape , berharap ada pesan ato telfon dari kamu ...
tapi kenyataannyaa ????
Tuhan .. sebegitu tak berharga kah aku dimatanya :'(
Sepele memang , tapi ........... ah sudahlah Lupakan sejenak kesedihan ini ..



Terimakasih ayah , terimakasih mama ..
terima kasih mba ayu ..
terimakasih temen2 ..
terimakasih juga buat kelupaan kamu ..

Jika tak mampu membuat aku tertawa lagi , setidaknya jangan buat aku menangis ..

Jumat, 24 Agustus 2012

(⌣_⌣..) (⌣́_⌣̀") (⌣́_⌣̀)


Tuhanku yang amat aku cintai,
lihatlah wajahku yang letih ini ...

yang telah berupaya menuruti tuntunanMu
untuk bekerja keras dalam kejujuran,
untuk kebaikan hidupku dan kebahagiaan keluargaku,
tapi ...

yang belum dihargai dengan baik oleh sesamaku ...

Aku yang dicari saat aku tak ada,
tapi yang diabaikan saat aku ada,
yang diperintah tanpa mengukur kekuatanku,
yang dimarahi tanpa perduli hatiku pun bisa sakit,
yang disebut namaku hanya dalam kemarahan,
yang dihargai seperti aku lebih murah dari perabot rumah mereka.

Tapi itu semua bukan salahMu.

Ini pasti karena aku belum cukup memampukan diriku.

Besok, aku akan mencoba lebih berani lagi,
berupaya lebih bertenaga lagi,
dan bertahan lebih sabar lagi.

Besok, aku akan memperpanjang setiap menitku
dengan doa dan kerja keras,
akan kuperindah setiap menitku dengan kesyukuran,
dan akan kujadikan setiap menitku bernilai,

karena aku khawatir waktuku akan habis
sebelum aku sepenuhnya mampu membahagiakan
ibu dan ayahku, kekasih hatiku, saudaraku,
dan mereka yang kucintai dan yang mencintaiku.

Tuhan ... biarkanlah aku menangis sebentar,
dan jika nanti aku terlelap dalam isakku,
lepaskanlah letih dari ototku,
bersihkanlah pikiranku dari bebannya,
usirlah momok dari hatiku,
dan haluskanlah jalan nafasku.

Tuhan, sayangilah aku, selamatkan dan
sejahterakankah kekasih kecilMu yang letih ini.

Aamiin (˘.˘)

Rabu, 08 Agustus 2012

hilang nyawaku


satu bulan penuh tanpa membuka blog ini rasanya... menusuk. saya tetap menulis, tetapi bukan menulis apa. ketika menulis biasanya mengisi jiwa, ini hanya sekedar alfabet. hanya rentetan kata yang jika diulang tiada makna. tulisan-tulisan yang ditulis tanpa apa. saya hilang apa, saya hilang nyawa. nyawa berarti arah bagi saya.
pendek kata : saya kehilangan arah.
nyawa saya tersesat entah dimana, ia hilang arah. mungkin dia lupa kalau dia punya rumah; hati saya. mungkin ia tengah bosan dengan kemunafikan hidup yang akhir-akhir ini ditujukan langsung, dikirim tanpa perantara untuknya. mungkin kini ia tengah duduk-duduk santai menikmati kopi pagi di hati yang lain. atau tengah berinteraksi dengan psikiater yang pastinya mampu mengendalikan segala pemikiran yang tidak diperlukan? entah. saya rindu dia; nyawa saya.
belakangan, saya menyadari bahwa aktivitas dapat membunuh anda secara perlahan; satu-satunya alasan yang sesungguhnya tidak beralasan karena saya memilih aktivitas ini secara sadar meski dibawah tekanan. banyak hal yang saya sukai, tetapi hanya menjadi sisipan semata, dimana saya sadar bahwa semua itu bisa menjadi nyawa cadangan. tetapi lenyap.
dan saat ini saya masih menjadi manusia tanpa nyawa. heran, apa ini berarti saya tengah menjadi zombie?
saya butuh nyawa saya. sekarang. mungkin anda punya? atau anda nyawa saya?

Selasa, 07 Agustus 2012

Mencoba menulis lagi :)


Lama tak menulis tampaknya membuat tangan saya gatal untuk kembali menuangkan sejumput pikiran yang terendap di kepala. Menulis bagi saya bukanlah sebuah kegiatan untuk sekedar menggoreskan pena di atas kertas putih ataupun menarikan sepuluh jemari di atas tuts keyboard. Bagi saya menulis layaknya seseorang yang sedang ‘berdoa dengan tangan tertelungkup’*. Di sana saya dapat berdoa, berharap, mengeluh, menangis, bahagia, bersyukur dan segala ekspresi lainnya yang terkadang tidak dapat dideskripsikan. Saya dapat menuangkan semua ekspresi tersebut melalui karakter-karakter yang saya bentuk sendiri dalam imajinasi yang jika disatukan mungkin akan mampu menggambarkan karakter pribadi sang penulis dan orang-orang yang ada di sekitar saya. Menulis bagi saya bukan soal sastra, bukan soal keindahan gaya bahasa, juga bukan soal titik koma. Tapi menulis adalah ungkapan jiwa, tak peduli seburuk apapun gaya bahasa kita ia tetaplah unik seunik nada getar suara kita.  Nyook nulis lagi nyook..

Akhir kata, mari kita kutip sebuah kata dari Umar bin Khatab: “Ajarilah anakmu sastra, agar ia menjadi pemberani”. Berhubung saya belum punya anak jadi harus nulis sendiri, entar kalo dah punya anak baru disuruh nulis dia.

* biasanya kita berdoa dengan tangan menengadah ke atas, namun saat kita menulis tangan kita menghadap ke bawah (telungkup) itulah mengapa penulis menggunakan ungkapan ‘berdoa dengan tangan tertelungkup’  [frasa ngarang sendiri]

[saya memutuskan (bukan ‘mencoba’) untuk terus menulis minimal 1 tulisan per pekan]