Rabu, 22 Januari 2014




Model Pembelajaran AIR (Auditory, Intellectually, Repetition)
Model pembelajaran AIR (Auditory, Intellectually, Repetition) adalah model pembelajaran yang menganggap bahwa suatu pembelajaran akan efektif jika memperhatikan tiga hal, yaitu Auditory, Intellectually, and Repetition. Auditory berarti indera telinga digunakan dalam belajar dengan cara menyimak, berbicara, presentasi, argumentasi, mengemukakan pendapat, dan menanggapi. Intellectually berarti kemampuan berpikir perlu  dilatih melalui latihan bernalar, mencipta, memecahkan masalah, mengkonstruksi, dan menerapkan. Repetition berarti pengulangan diperlukan dalam pembelajaran agar pemahaman lebih mendalam dan lebih luas, siswa perlu dilatih melalui pengerjaan soal, pemberian tugas, dan kuis.
Teori belajar yang mendukung model pembelajaran AIR salah satunya adalah aliran psikologis tingkah laku serta pendekatan pembelajaran matematika berdasarkan paham konstruktivisme. Tokoh-tokoh dalam aliran psikologi tingkah laku diantaranya Ausubel dan Edwar L. Thorndike. Teori Ausubel (Suherman, 2001) dikenal dengan belajar bermakna dan pentingnya pengulangan sebelum pembelajaran dimulai. Teori Thorndike (Suherman, 2001) salah satunya mengungkapkan  the law of exercise (hukum latihan) yang pada dasarnya menyatakan bahwa stimulus dan respons akan memiliki hubungan satu sama lain secara kuat jika proses pengulangan sering terjadi. Semakin banyak kegiatan pengulangan dilakukan maka hubungan yang terjadi akan semakin bersifat otomatis.
Sedangkan berdasarkan pendekatan paham konstruktivisme, pembelajaran matematika adalah proses pemecahan masalah. Paul (Uno, 2007) mengemukakan bahwa aliran kontruktivisme memandang bahwa untuk belajar matematika yang terpenting adalah bagaimana membentuk pengertian pada siswa. Dalam aliran ini siswa mempelajari matematika senantiasa membentuk pengertian sendiri. Hal ini menekankan bahwa pada saat belajar matematika yang terpenting adalah proses belajar siswa, guru hanya bertindak sebagai fasilitator yang mengarahkan siswa, meluruskan, dan melengkapi sehingga konstruksi pengetahuan yang dimilikinya menjadi benar sehingga siswa diberi kesempatan menghayati proses penemuan atau penyususnan suatu konsep sebagai suatu keterampilan.
a)    Auditory
Auditory berarti indera telinga digunakan dalam belajar dengan cara menyimak, berbicara, presentasi, argumentasi, mengemukakan pendapat, dan menanggapi. Linksman (Alhamidi, 2006) mengartikan auditory dalam konteks pembelajaran sebagai belajar dengan mendengar, berbicara pada diri sendiri, dan juga mendiskusikan idea dan pemikiran pada orang lain.
Mendengar merupakan salah satu aktifitas belajar. Tidak mungkin materi yang disampaikan secara lisan oleh guru dapat diterima dengan baik oleh siswa apabila siswa tersebut tidak menggunakan indera pendengaran dalam arti lain mendengar. Hal ini berarti bahwa auditory sangat penting dalam memahami materi.
Rahman (2006:24) mengungkapkan bahwa ada beberapa kegiatan yang dapat menunjang dalam auditory ini salah satunya adalah dengan membentuk siswa kedalam beberapa kelompok dan kemudian masing-masing kelompok diminta persentasi bergantian. Dalam persentasi tersebut ada kelompok yang berbicara dan juga kelompok yang mendengarkan, sehingga auditory terlaksana.
Selain itu Rahman (2006:23) mengungkapkan pula bahwa dalam KBM, sebagian besar proses interaksi siswa dengan guru dilakuka dengan komunikasi yang melibatkan indera telinga. Selama KBM berlangsung, guru dapat meminta siswa untuk mendengarkan, menyimak, berbicara persentasi, argumentasi, mengemukakan pendapat dan menaggapi dengan menciptakan suasana demikian. Siswa dituntut untuk berpartisipasi aktif dan mengoftimalkan pemanfaatan indera telinga sehingga interaksi antara telinga dan otak bisa dimanfaatkan secara maksimal.
Dalam kegiatan pembelajaran sebagian besar proses interaksi siswa dengan guru dilakukan dengan komunikasi secara lisan dan melibatkan indera telinga. Guru harus mampu untuk mengondisikan siswa agar mengoptimalkan indera telinganya, sehingga koneksi antara telinga dan otak dapat dimanfaatkan secara optimal. Guru dapat meminta siswa untuk menyimak, mendengar, berbicara, presentasi, berargumen, mengemukakan pendapat, dan menanggapi sehingga menciptakan suasana belajar yang aktif.
Ada beberapa strategi belajar secara auditory yang dikemukakan oleh Meier (Esa 2005:16) diantaranya:
·      Mintalah siswa berpasang-pasangan membincangkan secara terperinci hal-hal yang mereka pelajari dan bagaimana menciptakannya
·      Mintalah siswa untuk membentuk kelompok dan berbicara pada saat mereka menyusun pemecahan masalah membuat model, mengumpulkan informasi, atau menciptakan makna-makna belajar.
b)   Intellectually
Intellectually diartikan sebagai belajar berfikir dan memecahkan masalah. Intellectually yaitu belajar dengan berpikir untuk menyelesaikan masalah, kemampuan berpikir perlu dilatih melalui latihan bernalar, mencipta, memecahkan masalah, mengonstruksi, dan menerapkan.
Menurut Meier (Esa, 2005:17) bahwa intelektual menunjukkan apa yang dilakukan pembelajar dalam pikiran mereka secara internal ketika mereka menggunakan kecerdasan untuk merenungkan suatu pengalaman tersebut. Intelektual adalah sebagian dari merenung, mencipta, memecahkan masalah dan membangun makna.
Intelektual adalah penciptaan makna dalam pikiran, sarana yang digunakan manusia untuk berfikir, menyatukan pengalaman belajar. Intelektual menghubungkan pengalaman mental, fisik, emosional, dan gerak tubuh untuk membuat makna baru bagi diri sendiri, sarana yang digunakan pikiran untuk mengubah pengalaman menjadi pengetahuan, dan pengetahuan menjadi pengalaman.
Meier (Esa, 2005:17) mengatakan bahwa belajar intelektual yaitu belajar melalui perenungan (tafakur), mencipta, memecahkan masalah dan membangun makna. Aspek intelektual dalam belajar akan terlatih jika siswa diajak terlibat dalam aktivitas seperti: memecahkan masalah, menganalisis pengalaman, melahirkan gagasan kreatif, mencari dan menyaring informasi, merumuskan pertanyaan, dan menerapkan gagasan baru saat belajar. Intelektual menunjukkan kegiatan pikiran siswa secara internal ketika mereka menggunakan kecerdasan untuk merenungkan pengalamannya.
Menurut Meier (Esa, 2005:17) bahwa dalam intelektual ada beberapa kegiatan diantaranya:
·      Menganalisis, memecahkan masalah, fokus, perhatian
·      Menghubungka informasi dan mensintesis
·      Menilai, membandingkan, memeriksa, dan mencocokkan

Guru harus berusaha untuk merangsang, mengarahkan, memelihara, dan meningkatkan intensitas proses berfikir siswa demi tercapainya pemahaman konsep yang maksimal pada siswa. Guru harus berusaha mendorong siswa agar belajar secara berhasil.
c)    Repetition
Belajar adalah pengulangan, prinsip dasar pembelajaran adalah pengulangan. Dimyati dan Mudjiono, (2002:46) mengemukakan bahwa ada tiga teori yang menekankan pentingnya pengulangan, yaitu:
·      Teori psikologi daya. Belajar adalah melatih daya-daya yang ada pada manusia yang terdiri atas daya mengamat, menanggap, mengingat, mengkhayal, dan berfikir.
·      Teori psikologi dan asosiasi atau koneksionisme. Dengan hukum belajarnya law of exercise yang mengungkapkan bahwa belajar adalah pembentukan hubungan antara stimulasi dan respon, serta pengulangan terhadap pengalaman-pengalaman itu memperbesar peluang timbulnya respon benar.
·      Teori psikologi conditioning respon. Belajar adalah pembentukan hubungan stimulasi dan respon.
Pengulangan yang dilakukan tidak berarti dilakukan dengan bentuk pertanyaan ataupun informasi yang sama, melainkan dalam bentuk informasi yang bervariatif sehingga tidak membosankan. Dengan pemberian soal dan tugas, siswa akan mengingat informasi-informasi yang diterimanya dan terbiasa untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan matematis.
Dalam belajar masih diperlukan pengulangan. Pengulangan sangat diperlukan dalam mendukung proses mengingat. Mengingat merupakan salah satu proses yag cukup sulit, sehingga diperlukan suatu cara khusus untuk dapat melakukan kegiatan tersebut. Hal-hal yang telah dipelajari terkadang sulit untuk dimunculkan kembali atau bahka tidak diproduksi lagi dalam daya ingat kita, maka ini dinamakan lupa.
Pengulangan beberapa kali dalam belajar dapat membantu proses pemahaman yang mendalam dan mengatasi lupa, selain itu pengulangan diharapkan dapat mengoptimalkan hasil belajar siswa. Penguasaan secara penuh dari setiap langkah memungkinkan belajar secara keseluruhan lebih berarti, maka pengulangan masih diperlukan dalam kegiatan pembelajaran.
Dimyati dan Mudjiono (2002:47) mengungkapka bahwa implikasi adanya prinsip pengulangan bagi siswa adalah kesadaran sswa untuk bersedia mengerjakan latihan-latihan yang berulang. Dengan kesadaran ini diharapkan siswa tidak merasa bosan dalam melakukan pengulangan. Bentuk prilaku pembelajaran yang merupakan implikasi pengulangan diantaranya menghapal.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar