Bagaimana jika pada akhirnya yang
kupilih bukan kamu, tapi dia?
Bagaimana jika pada akhirnya yang
kupinta untuk melengkapiku bukan kamu, tapi dia?
Bagaimana jika pada akhirnya
persahabatan bertahun-tahun kita tergantikan oleh hadirnya?
Bagaimana jika pada akhirnya kita
saling melepaskan tanpa banyak penjelasan? Aku pergi, punggungmu menjauh, tak
banyak kata, tapi hati kita tahu bahwa semua sudah selesai. Usai.
Bagaimana jika pada akhirnya aku dan
kamu kembali menjadi diri sendiri, tanpa sempat mendefisikan kata “kita”
menjadi nyata? Aku menundukan mukaku. Kamu menghapus sisa hujan di
matamu.
Maafkan aku. Ternyata beginilah
kemungkinan yang memungkinkan. Kita berandai pada keputusan sulit yang sedang
kita pelajari jawabannya pada hati sendiri. Anggap ini terapi. Belajarlah untuk
menerima, juga meyakini. Akan ada selalu yang terbaik untuk setiap perjalanan,
baik jiwa ataupun rasa…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar