Selasa, 07 Agustus 2012

Mencoba menulis lagi :)


Lama tak menulis tampaknya membuat tangan saya gatal untuk kembali menuangkan sejumput pikiran yang terendap di kepala. Menulis bagi saya bukanlah sebuah kegiatan untuk sekedar menggoreskan pena di atas kertas putih ataupun menarikan sepuluh jemari di atas tuts keyboard. Bagi saya menulis layaknya seseorang yang sedang ‘berdoa dengan tangan tertelungkup’*. Di sana saya dapat berdoa, berharap, mengeluh, menangis, bahagia, bersyukur dan segala ekspresi lainnya yang terkadang tidak dapat dideskripsikan. Saya dapat menuangkan semua ekspresi tersebut melalui karakter-karakter yang saya bentuk sendiri dalam imajinasi yang jika disatukan mungkin akan mampu menggambarkan karakter pribadi sang penulis dan orang-orang yang ada di sekitar saya. Menulis bagi saya bukan soal sastra, bukan soal keindahan gaya bahasa, juga bukan soal titik koma. Tapi menulis adalah ungkapan jiwa, tak peduli seburuk apapun gaya bahasa kita ia tetaplah unik seunik nada getar suara kita.  Nyook nulis lagi nyook..

Akhir kata, mari kita kutip sebuah kata dari Umar bin Khatab: “Ajarilah anakmu sastra, agar ia menjadi pemberani”. Berhubung saya belum punya anak jadi harus nulis sendiri, entar kalo dah punya anak baru disuruh nulis dia.

* biasanya kita berdoa dengan tangan menengadah ke atas, namun saat kita menulis tangan kita menghadap ke bawah (telungkup) itulah mengapa penulis menggunakan ungkapan ‘berdoa dengan tangan tertelungkup’  [frasa ngarang sendiri]

[saya memutuskan (bukan ‘mencoba’) untuk terus menulis minimal 1 tulisan per pekan]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar