Lama tak menulis tampaknya membuat tangan saya gatal untuk
kembali menuangkan sejumput pikiran yang terendap di kepala. Menulis bagi saya
bukanlah sebuah kegiatan untuk sekedar menggoreskan pena di atas kertas putih
ataupun menarikan sepuluh jemari di atas tuts keyboard. Bagi saya menulis
layaknya seseorang yang sedang ‘berdoa dengan tangan tertelungkup’*. Di sana
saya dapat berdoa, berharap, mengeluh, menangis, bahagia, bersyukur dan segala
ekspresi lainnya yang terkadang tidak dapat dideskripsikan. Saya dapat
menuangkan semua ekspresi tersebut melalui karakter-karakter yang saya bentuk
sendiri dalam imajinasi yang jika disatukan mungkin akan mampu menggambarkan
karakter pribadi sang penulis dan orang-orang yang ada di sekitar saya. Menulis
bagi saya bukan soal sastra, bukan soal keindahan gaya bahasa, juga bukan soal
titik koma. Tapi menulis adalah ungkapan jiwa, tak peduli seburuk apapun gaya
bahasa kita ia tetaplah unik seunik nada getar suara kita. Nyook nulis lagi nyook..
Akhir kata, mari kita kutip sebuah kata dari Umar bin
Khatab: “Ajarilah anakmu sastra, agar ia menjadi pemberani”. Berhubung saya
belum punya anak jadi harus nulis sendiri, entar kalo dah punya anak baru
disuruh nulis dia.
* biasanya kita berdoa dengan tangan menengadah ke atas,
namun saat kita menulis tangan kita menghadap ke bawah (telungkup) itulah
mengapa penulis menggunakan ungkapan ‘berdoa dengan tangan tertelungkup’ [frasa ngarang sendiri]
[saya memutuskan (bukan ‘mencoba’) untuk terus menulis
minimal 1 tulisan per pekan]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar