Kamis, 17 Januari 2013

UNO


Janji kita, siapa pun yang kalah dalam permainan ini, ia harus mencium sang pemenang di tempat yang diinginkan sesuka hatinya. Setelah menimbang sejenak, bibirku melengkungkan senyum.

"Oke, Deal!" kataku kepadamu dari ujung ranjang.

Aku mengambil tumpukan kartu yang berserak di tengah kita, memulai gerakan mengocok kartu, lalu membaginya sama rata sesuai aturan konvensional yang berlaku di seluruh dunia: tujuh kartu untukmu dan tujuh kartu untukku.

Aku mengangkat kartu-kartu yang menjadi bagianku lalu membariskannya di antara jari-jemariku sebelum kulihat semua isinya. Kau menaikkan salah satu sudut bibirmu ke atas setelah melihat kartu-kartu milikmu sendiri berjejer di antara jari-jarimu, senyum nakal yang selalu kaubuat jika berhasil membuatku berteriak mengaduh manja terhadapmu. Dasar nakal! Umpatku dalam hati.

"Kartunya bagus, makasih kocokannya, ya!?" katamu sambil menganggukkan kepalamu sekali ke arahku, "Punya kamu bagus, nggak?"

Aku mengecutkan bibirku sambil menggeleng. Kau tertawa cekikan setelahnya.
Kau mengambil satu buah kartu di tengah-tengah kita sebagai kartu penunjuk, kartu paling atas yang kau ambil. Kartunya bernomor 6 warna kuning. Kemudian kau meletakkan kartu berwarna kuning bergambar sebuah lingkaran dengan garis miring di tengahnya. Lambang stop. Aku mengangkat bahu, "Jalan lagi," kataku.

Kau tersenyum semakin nakal setelah melihatku mulai tidak senang pada permainan ini. Hei, ini masih awal dan kau mulai menyebalkan! Teriakku dalam hati.

"Oh iya, pasti, dong!" katamu sambil menjatuhkan kartu berwarna kuning dan bergambar dua buah panah yang saling menunjuk. Lambang reverse. Putar balik.

Aku menggigit bibirku, menyipitkan mata, dan melihat wajahmu yang tersenyum lebih dari sekadar nakal. Aku menggelengkan kepalaku sekali. Permainan ini mulai menguji kesabaranku. Tapi, bukannya aku harus senang karena siapa yang kalah harus mencium yang menang. Bermain cinta setelah bermain kartu? Hmm... lakukan!

"Jalan... lagi..." kataku pelan-pelan.

Kau tidak bersuara. Kau menjatuhkan sebuah kartu berwarna hitam dengan mantap ke atas tiga lembar kartu yang berserakan di tengah kita. Kartu berwarna hitam dengan tanda +4 di pinggir kanannya. Aku hanya termangu lalu melihat wajahnya. Aku mengangkat kedua alisku padamu.

"Ya ambil, lah..." katamu sambil menganggukkan kepala dengan wajah menyebalkan.

Aku menggeleng berkali-kali lalu mengambil empat lembar kartu sambil mendenguskan napas. Tahukah kau bahwa permainan ini mulai menyebalkan? Menyebalkan yang menyenangkan karena ada kau sebagai lawanku di sini. Menyenangkan karena dengan adanya kau di sini aku tidak lagi punya alasan untuk merasa kesepian. Ini menyebalkan yang paling menyenangkan! Kau harus tahu itu, Sayang. 

Kartumu tinggal tersisa empat, sedangkan kartuku beranak pinak menjadi sebelas lembar yang kini berjejer rapi di jari-jemariku.

*** 

"Uno games!" teriakmu ketika kartumu telah habis dari genggaman, sedangkan aku, kartuku masih lengkap: sebelas lembar dalam genggaman. Bahkan kau tidak mengizinkanku untuk mengurangi satu lembar kartu pun dari tanganku.

Bermain UNO berarti bermain dengan kesempatan, katamu. Jika ingin menang dalam permainan ini, kita harus pintar-pintar menggunakan kesempatan, katamu lagi. Sekarang aku jadi mengerti, bagaimana aku bisa memenangkan permainan ini jika kau tidak memberikan padaku satu kali saja kesempatan.

Tapi tidak apa-apa, kupikir selagi hukumannya adalah menciummu, tidak apa-apa aku tidak mempunyai kesempatan untuk mengalahkanmu dalam permainan ini. Toh, aku masih memiliki kesempatan untuk menciummu, untuk mencintaimu. Aku membuang sebelas kartuku di tengah-tengah kita, lalu aku tersenyum sambil merangkak menuju tubuhmu. Kau tersenyum lebih nakal dari sebelumnya dan itu membuatku semakin cepat ingin menciummu. Lalu aku berhasil mencapai keningmu.

Aku berhenti bergerak ketika bibirku berada di puncak kepalamu. Rasanya dingin, sepi, getir. Lalu badanku bergetar, kepalamu mulai basah dengan air mata yang jatuh dari mataku. Kau kaku, lalu pelan. Menghilang. Aku mencoba memelukmu, tapi kau tidak ada lagi. Yang tersisa hanya serakan kartu-kartu di depanku. Badanku semakin bergetar, tangisku mulai meriak sementara kau benar-benar tidak ada lagi di depanku. Kuacak tumpukan kartu dengan kedua kakiku sehingga beberapa lembarnya terkoyak. Tubuhmu benar-benar lenyap dari pandanganku dan luka hatiku semakin menganga. Malam mulai beranjak tua tapi aku masih duduk di tepian ranjang sambil menangis.

Sayang, bahkan kau tidak memberikan kesempatan padaku bahwa kaulah satu-satunya. Lebih lagi, kau tidak memberiku kesempatan bahwa aku ada. Bahkan untuk menunjukkan padamu bahwa aku mampu menjadi yang terbaik. Untuk mencintaimu.
Lagi-lagi aku bermain UNO sendirian. Bersama bayanganmu. Dan juga tembok di depanku. Ibuku hanya mampu melihat dari depan kamar rumah sakit yang kini kutempati. Aku tidak mengerti mengapa beliau selalu menangis ketika melihatku menangis. Lebih lagi, aku tidak tahu kenapa aku ditempatkan dalam kamar isolasi ini.

Jumat, 04 Januari 2013



Bagaimana jika pada akhirnya yang kupilih bukan kamu, tapi dia?
Bagaimana jika pada akhirnya yang kupinta untuk melengkapiku bukan kamu, tapi dia?
Bagaimana jika pada akhirnya kita saling melepaskan tanpa banyak penjelasan? 
Aku pergi, punggungmu menjauh, tak banyak kata, tapi hati kita tahu bahwa semua sudah selesai. Usai.
Bagaimana jika pada akhirnya aku dan kamu kembali menjadi diri sendiri, tanpa sempat mendefisikan kata “kita” menjadi nyata? Aku menundukan mukaku. Kamu menghapus sisa hujan di matamu. 

Maafkan aku. Ternyata beginilah kemungkinan yang memungkinkan. Kita berandai pada keputusan sulit yang sedang kita pelajari jawabannya pada hati sendiri. Anggap ini terapi. Belajarlah untuk menerima, juga meyakini. Akan ada selalu yang terbaik untuk setiap perjalanan, baik jiwa ataupun rasa…
Biarlah pahitnya masa lalu itu kulupakan, namun aku sama sekali tidak ingin melupakan pelajaran dan hikmah dari masa laluku.. Karena aku manusia, bukan keledai yang katanya jatuh pada lubang yang sama…
Dulu, hal-hal tersebut memang cukup manis. Sekarang hatiku rasanya menawar.
Pengakuan : aku bosan. Aku jenuh.
“Janganlah terlalu bersedih atas masa lalu yang pernah terjadi pada dirimu cobalah menutup rapat-rapat dan mengikat masa lalumu dengan KEIKHLASAN. Yang pergi biarlah pergi dan jangan kau ungkit kembali yang hanya akan membuatmu putus asa”

Catatan Kecil Dari Hati #Part II

“Kamu masih mencarinya?”
“Siapa?”
“Pencuri rusukmu.”
“Oh… Tidak.”
“Jadi?”
“Aku selesai.”
“Kamu berhenti mencari?”
“Aku menunggu saja. Menunggu ia tiba. Menantikan ia datang dengan semangat perubahan. Aku tak pasif tentu saja. Hanya menyadari. Awal dari segala hal adalah doa. Tombaknya usaha. Kulepaskan ia dalam perbaikan menuju cinta-Nya.”
“Kenapa?”
“Ibarat mobil, aku membiarkan kemudi di tangan yang tepat. Aku tak bisa memaksakan siapa pun harus segera menjalankannya. Ia mestilah punya keinginan untuk menjalankannya. Ia pun mestilah memiliki syarat yang cukup untuk menjadi sopir yang baik. Minimal dia lulus uji. Punya SIM. Fokus ke depan. Bukan melulu ke masa lalu yang bisa ia lihat sesekali lewat kaca spion..”
“Hmm… Sudahkah kamu temukan yang seperti itu?”
“Kita seringkali jatuh hati pada orang-orang yang senantiasa berbuat kebaikan. Semoga jika pun aku nanti jatuh hati, dia kelak akan menjadi pengemudi yang baik, yang bisa menjagaku dan keluarga kami kelak dari api neraka, yang tak sekadar selamat di perjalanan menuju terminal, tapi juga hingga kelak ke tempat paling abadi.”
“Aamiin… Dan semoga orang itu aku..”
“Kamu?”
“Kamu tahu itu…”

Catatan Kecil Dari Hati

Standing there, watching you.
Dulu, aku tidak menyangka aku akan sejauh ini denganmu.
Dulu, aku tidak menyangka kamu akan sedekat ini dengan mereka.
Dulu, aku tidak menyangka bagaimana waktu memisahkan kita.
Dulu, aku tidak percaya waktu akan mengubah kita.
Kamu yang sekarang, jelas bukan kamu yang dulu.
(…kamu yang lucu, bersahabat, sopan, dekat denganku…)
Dan aku yang sekarang, mungkin saja bukan aku yang dulu.
I’m still standing there, watching you. Remembering you. Dengan senyuman tipis di bibirku, aku melangkah pergi dan menyeka air mataku.