PENGERTIAN FILSAFAT
4.1.1. Uraian
Pengertian
filsafat dapat didekati paling sedikit dari segi : 1) filsafat dalam
arti harfiah, filsafat secara operasional, filsafat dari sudut isinya
(materinya), dan filsafat sebagai product atau hasil pemilsafatan.
4.1.1.1. Filsafat dalam arti “Harafiah”
Asal kata Filsafat dari bahasa Latin “Filosofia) terdiri dari kata Filos dan Sofia
Filos = Cinta atau hasrat yang besar
Sofia = Pengetahuan yang mendalam sampai berkaitan dengan kearifan.
Berdasarkan pembahasan secara harafiah ini filsafat berarti cinta kepada pengetahuan atau hasrat yang besar untuk menjadi arif
4.1.1.2. Filsafat secara Operasional (Prosesnya)
Filsafat secara prosesnya atau operasionalnya adalah “cara berfilsafat”, maka filsafat adalah renungan yang mendalam (radikal)
dan menyeluruh (integral), secara sistematis, sadar dan metodis dan
sudah barang tentu tidak meninggalkan sifat-sifat ilmiah pada umumnya.
4.1.1.3. Filsafat dibahas dari sudut isinya (Materinya)
Filsafat adalah ilmu pengetahuan
yang mempelajari metodologi serta hakekat kebenaran dan nilai dari
ihwal terutama tentang manusia dan segala cita-citanya, dengan
lingkungannya, agamanya, kehidupannya, ideologinya, hakekat dirinya dan
lain-lain. Masalah hakikat di dalam ilmu filsafat dimasukkan di dalam
Ontologi yang akan kita bahas di dalam modul-modul selanjutnya.
Filsafat
mengenai nilai ada 3 (tiga) bagian, yaitu : 1) Aksiologi : yaitu
filsafat tentang “nilai pada umumnya” misalnya : nilai tujuan filosofis
suatu negara dan cara kerja yang memperhatikan nilai-nilai tertentu;
2) Etika : yaitu filsafat tingkah laku disebut The Filosophy of Conduct
; 3) Aestetika : yaitu filsafat keindahan disebut The Filosophy of Art
4.1.1.4. Filsafat sebagai Product atau Hasil Pemilsafatan
Ini merupakan “hasil” orang berfilsafat atau produk para filsuf dan para ahli pikir. Pengertian terakhir inilah yang menjadi dasar pengertian “filsafat” untuk modul-modul
selanjutnya yang bersifat “Ontologis” (mempelajari hakikat kebenaran)
dan bersifat “Value oriented” (aksiologis, etis atau aestitis), yang
mempelajari nilai-nilainya.
4.1.1.5. Filsafat menurut para Filsuf
Arti
filsafat tidak semudah dan sesederhana seperti yang disajikan dengan 4
pendekatan di atas. Literatur tentang filsafat, kita ambil satu buku
saja, misalnya dari Drs Sudarsono, SH “Ilmu Filsafat Suatu Pengantar”.
Dia sudah dapat mengemukakan tidak kurang dari 7 definisi yang
berbeda-beda dari berbagai filsuf : Plato, Aristoteles, Al Farabi, Rene Descartes, Imanuel Kant, Langeveld, Hasbullah Bakry. Disini akan diambil beberapa contoh saja dari sekian banyak definisi-definisi itu :
1) Plato : Filsafat adalah pengetahuan yang berminat mencapai pengetahuan kebenaran yang asli.
2) Aristoteles : Filsafat adalah ilmu (pengetahuan) yang meliputi kebenaran yang terkandung di dalamnya ilmu-ilmu metafisika, logika, retorika, etika, ekonomi, politik dan estetika (filsafat keindahan).
3) Rene Descartes : Filsafat adalah kumpulan segala pengetahuan di mana Tuhan, Alam dan manusia menjadi pokok penyelidikan.
4) Immanuel Kant : Filsafat adalah ilmu (pengetahuan) yang menjadi pokok pangkal dari segala pengetahuan, yang didalamnya tercakup masalah epistemology (filsafat pengetahuan)
yang menjawab persoalan apa yang dapat kita ketahui ? Masalah Etika
yang menjawab persoalan apa yang harus kita kerjakan ? masalah
Ke-Tuhan-an (keagamaan) yang menjawab persoalan harapan kita dan
masalah manusia.
4.2. Kegiatan Belajar 2
PROBLEM SENTRAL FILSAFAT
4.2.1. Uraian
Jika pandangan-pandangan yang
beraneka ragam tentang filsafat, kita rangkum, maka ternyata bahwa
problema sentral filsafat adalah usaha manusia untuk mencari hakiki,
keberadaannya, hakikat manusia dalam hubungan dengan alam semesta, di
mana manusia itu menempatkan dirinya di dalamnya. Masalah pokok dalam
hal ini adalah “the meaning of human life”, dalam rangka “the
significance of the world.” Segi-segi manusia dan kemanusiaan adalah
beraneka ragam, maka ruang lingkup filsafat adalah sesuai dengan
segi-segi manusia dalam kaitannya dengan hakekat dunia dan alam
semesta. Dengan demikian maka dikenal 2 segi pokok : 1) “The world
outlook”, dan “The destiny of man”, 2) Masalah metode berpikir
4.2.1.1. “The world outlook”, dan “The destiny of man”
-
Manusia selalu mencari hakikat kebenaran tentang segala hal ihwal,
jika perlu sampai kebenaran yang terakhir (Sutan Takdir Alisyahbana).
Manusia itu apa, dari mana asalnya, dan hendak kemana ?
-
Manusia hidup selalu mencari dan menjalankan nilai-nilai hidup
tertentu : hidup itu for what ? (nilai terminal), hidup itu bagaimana,
bagaimana cara yang baik, how (instrumental value)
4.2.1.2. Metode Berpikir
Masalah metode berpikir meliputi dasar-dasar dan dalil bagaimana manusia berpikir secara teratur dan benar.
4.2.1.3. Cabang-Cabang Filsafat
Kedua segi ini dipelajari oleh cabang-cabang filsafat sebagai berikut :
1) Metode berpikir dipelajari oleh “metodologi” yang menghasilkan antara lain standar of valid thinking.
2) Yang mempelajari dasar-dasar pokok “pengetahuan” yang mendalam oleh manusia ialah “epistemology” (the philosophy of knowledge).
3) Yang mempelajari masalah hakikat misalnya tentang hakikat manusia dan hakikat-hakikat yang lain ialah : ‘ontologi” (the philosophy of being, of essential)
4) Yang mempelajari nilai-nilai kemasyarakatan baik nilai-nilai tujuan filisofis ialah axiology (the philosophy of value).
5) Yang mempelajari nilai-nilai akhlak, moral, budi luhur masing-masing diri manusia ialah “etika” (the philosophy of conduct).
6) Yang mempelajari nilai-nilai keindahan ialah “ estetika” (the philosophy of art).
7) Yang mempelajari ciri-ciri paling mendasar dan paling luas dari segala pengalaman manusia dipelajari oleh “metaphysika”.
4.3. Kegiatan Belajar 3
Filsafat Umum dan Filsafat Khusus
4.3.1. Uraian
Apabila dilihat dari sudut
karakteristik objeknya, filsafat dapat dibedakan menjadi dua macam,
yaitu (1) Filsafat Umum atau Filsafat Murni, dan (2) Filsafat Khusus
atau Filsafat Terapan.
Filsafat
Umum mempunyai objek : (1) hakikat kenyataan segala sesuatu
(Metafisika), yang termasuk di dalamnya hakikat secara keseluruhan
(Ontologi), kenyataan tentang alam atau kosmos (Kosmologi), kenyataan
tentang Tuhan (Teologi); (2) hakikat mengetahui kenyataan
(Epistemologi); (3) hakikat menyusun kesimpulan pengetahuan tentang
kenyataan (Logika); dan (4) hakikat menilai kenyataan (Aksiologi),
antara lain tentang hakikat nilai yang berhubungan dengan baik dan jahat
(Etika) serta nilai yang berhubungan dengan indah dan buruk
(Estetika).
Filsafat khusus (terapan) akan dibahas tersendiri pada modul berikutnya.
4.4. Kegiatan Belajar 4
ASAL MUASAL MANUSIA BERFILSAFAT
4.4.1. Uraian
Bagaimanakah
filsafat tercipta ? Apa yang menyebabkan manusia berfilsafat ?
sesungguhnya ada empat hal yang merangsang manusia untuk berfilsafat,
yaitu : ketakjuban, ketidakpuasan, hasrat bertanya dan keraguan.
4.4.1.1. Ketakjuban
Banyak
filsuf mengatakan bahwa yang menjadi awal kelahiran filsafat adalah
thaumasia (kekaguman, keheran, atau ketakjuban). Dalam karyanya yang
berjudul Metafisika, Aristoteles mengatakan bahwa karena ketakjuban
manusia mulai berfilsafat. Pada mulanya manusia takjub memandang
benda-benda aneh di sekitarnya, lama kelamaan ketakjubannya semakin
terarah pada hal-hal yang lebih luas dan besar, seperti perubahan dan
peredaran bulan, matahari, bintang-bintang, dan asal mula alam semesta.
Objek
ketakjuban ialah segala sesuatu yang ada dan dapat diamati. Itulah
sebabnya, bagi Plato pengamatan terhadap bintang-bintang, matahari, dan
langit merangsang manusia untuk melakukan penelitian. Penelitian
terhadap apa yang diamati demi memahami hakikatnya itulah yang
melahirkan filsafat.
4.4.1.2. Ketidakpuasan
Sebelum
filsafat lahir, berbagai mitos dan mite memainkan peranan yang amat
penting dalam kehidupan manusia. Berbagai mitos dan mite berupaya
menjelaskan asal mula dan peristiwa-peristiwa yang terjadi di alam
semesta serta sifat-sifat peristiwa itu. Akan tetapi, ternyata
penjelasan dan keterangan yang diberikan oleh mitos dan mite-mite itu
makin lama makin tidak memuaskan manusia. Ketidakpuasan inilah yang
membuat manusia terus menerus mencari penjelasan dan keterangan yang
lebih pasti dan meyakinkan.
Manusia
yang terus menerus mencari penjelasan dan keterangan yang lebih pasti
dan meyakinkan itu lambat laun mulai berpikir secara rasional.
Akibatnya, akal budi semakin berperan. Berbagai mitos dan mite yang
diwariskan oleh tradisi turun temurun semakin tersisih dari peranannya
semula yang begitu besar dan lahirlah filsafat, yang pada masa itu
mencakup seluruh ilmu pengetahuan yang ada dan telah dikenal.
4.4.1.3. Hasrat bertanya
Ketakjuban
manusia telah melahirkan pertanyaan-pertanyaan, dan ketidakpuasan
manusia membuat pertanyaan-pertanyaan itu tak kunjung habis.
Pertanyaanlah yang membuat manusia melakukan pengamatan, penelitian,
dan penyelidikan. Ketiga hal itulah yang menghasilkan penemuan baru
yang semakin memperkaya manusia dengan pengetahuan yang terus
bertambah.
4.4.1.4. Keraguan
Manusia
selaku penanya mempertanyakan sesuatu dengan maksud untuk memperoleh
kejelasan dan keterangan mengenai sesuatu yang dipertanyakan itu.
Manusia
bertanya bisa karena ia masih meragukan kejelasan dan kebenaran dari
apa yang telah diketahuinya. Jadi, jelas terlihat bahwa keraguanlah
yang turut merangsang manusia untuk bertanya dan terus bertanya, yang
kemudian menggiring manusia untuk berfilsafat.
4.5. Kegiatan Belajar 5
SIFAT DASAR FILSAFAT
4.5.1. Uraian
Menurut
Rapar (1996) paling sedikit ada lima sifat dasar filsafat, yaitu : (1)
berpikir radikal, (2) mencari asas, (3) memburu kebenaran, (4) mencari
kejelasan, (5) berpikir rasional.
4.5.1.1. Berpikir Radikal
Berfilsafat
berarti berpikir secara radikal. Filsuf adalah pemikir yang radikal.
Karena berpikir secara radikal, ia tidak pernah berhenti hanya pada
suatu fenomena suatu entitas tertentu. Ia tidak akan pernah berhenti
hanya pada suatu wujud realitas tertentu. Keradikalan berpikirnya itu
senantiasa mengobarkan hasratnya untuk menemukan akar seluruh
kenyataan.
Bagi seorang filsuf,
hanya apabila akar atau radix realitas telah ditemukan, segala sesuatu
yang bertumbuh di atas akar itu akan dapat dipahami. Hanya bila akar
suatu permasalahan telah ditemukan, permasalahan itu dapat dimengerti
sebagaimana mestinya.
4.5.1.2. Mencari Asas
Filsafat
bukan hanya mengacu kepada bagian tertentu dari realitas, melainkan
kepada keseluruhannya. Dalam memandang keseluruhan realitas, filsafat
senantiasa berupaya mencari asas yang paling hakiki dari keseluruhan
realitas. Seorang filsuf akan selalu berupaya untuk menemukan asas yang
paling hakiki dari realitas.
Mencari
asas pertama berarti juga menemukan sesuatu yang menjadi esensi
realitas. Dengan menemukan esensi suatu realitas, realitas itu dapat
diketahui dengan pasti dan menjadi jelas.
4.5.1.3. Memburu Kebenaran
Filsuf
adalah pemburu kebenaran. Kebenaran yang diburunya adalah kebenaran
hakiki tentang seluruh realitas dan setiap hal yang dapat
dipersoal¬kan. Oleh sebab itu, dapat dikatakan bahwa berfilsafat berarti
memburu kebenaran tentang segala sesuatu.
Tentu
saja kebenaran yang hendak digapai bukanlah kebenaran yang meragukan.
Untuk memperoleh kebenaran yang sungguh-sungguh dapat
di¬pertanggungjawabkan, setiap kebenaran yang telah diraih harus
senantiasa terbuka untuk dipersoalkan kembali dan diuji demi meraih
kebenaran yang lebih pasti. Demikian seterusnya.
Jelas
terlihat bahwa kebenaran filsafati tidak pernah bersifat mutlak dan
final, melainkan terus bergerak dari suatu kebenaran menuju kebenaran
baru yang lebih pasti. Kebenaran yang baru ditemukan itu juga terbuka
untuk dipersoalkan kembali demi menemukan kebenaran yang lebih
meyakinkan.dengan demikian, terlihat bahwa salah satu sifat dasar
filsafat ialah memburu kebenaran. Upaya memburu kebenaran itu adalah
demi kebenaran itu sendiri, dan kebenaran yang diburu adalah kebenaran
yang meyakinkan serta lebih pasti.
4.5.1.4. Mencari Kejelasan
Salah
satu penyebab lahirnya filsafat ialah keraguan. Untuk menghilang¬kan
keraaguan diperlukan kejelasan. Ada filsuf yang mengatakan bahwa
berfilsafat
berarti berupaya mendapatkan kejelasan dan penjelasan mengenai seluruh
realitas. Ada pula yang mengatakan bahwa filsuf senantiasa mengejar
keje!asan pengertian (clarity of understanding). Geisler dan Feinberg
mengatakan bahwa ciri khas penelitian filsafati ialah adanya usaha
keras demi meraih kejelasan intelektual (intellectual clarity).' Dengan
demikian, dapat mengatakan bahwa berpikir secara filsafati berarti
berusaha memperoleh ke¬kejelasan.
Mengejar
kejelasan berarti harus berjuang dengan gigih untuk mengelimi¬nasi
segala sesuatu yang tidak jelas, yang kabur, dan yang gelap, bahkan
juga yang serba rahasia dan berupa teka-teki. Tanpa kejelasan, filsafat
pun akan menjadi sesuatu yang mistik, serba rahasia, kabur, gelap, dan
tak mung¬kin dapat menggapai kebenaran.
Jelas
terlihat bahwa berfilsafat sesungguhnya merupakan suatu perjuang¬an
untuk mendapatkan kejelasan pengertian dan kejelasan seluruh realitas.
Perjuangan mencari kejelasan itu adalah salah satu sifat dasar
filsafat.
4.5.1.5. Berpikir Rasional
Berpikir
secara radikal, mencari asas, memburu kebenaran, dan mencari kejelasan
tidak mungkin dapat berhasil dengan baik tanpa berpikir secara
rasional. Berpikir secara rasional berarti berpikir logis, sistematis,
dan kritis. Berpikir logis adalah bukan hanya sekedar menggapai
pengertian-pengertian yang dapat diterima oleh akal sehat, melainkan
agar sanggup menarik kesim¬pulan dan mengambil keputusan yang tepat dan
benar dari premis-premis yang digunakan
4.6. Kegiatan Belajar 7
KEGUNAAN FILSAFAT
4.6.1. Uraian
Paling tidak ada empat kegunaan filsafat bagi manusia, diantaranya adalah :
- Mendidik dan melatih manusia unt merumuskan pikiran-pikiran secara logis, sistematis, objektif, methodis dan “ gambling”.
-
Membantu manusia unt menelaah suatu masalah tdk hanya terhenti pada
fenomena atau gejala penampakan saja, tetapi sanggup membantu
mengungkapkan suatu masalah sampai kepada masalah hakikinya.
- Membantu manusia meningkatkan kecerdasan dan tanggung jawab terutama kepada hati nuraninya sendiri.
- Memberikan pelita dalam masalah-masalah ilmu dan iman
DAFTAR PUSTAKA
Franz Magnis-Suseno, 1992, Filsafat Sebagai Ilmu Kritis, Kanisius, Yogyakarta.
Jan Hendrik Rapar, 1996, Pengantar Filsafat, Penerbit Kanisius, Yogyakarta.
Kattsoff
. Louis O., 1992, Pengantar Filsafat Judul Asli Elements of
Philosophy, alih bahasa Soejono Soemargono, Tiara Wacana, Yogyakarta.
Sudarsono, 1993, Ilmu Filsafat Suatu Pengantar, Rineka Cipta, Jakarta
Tim Dosen Filsafat Ilmu Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada, 2001, Filsafat Ilmu, Liberty, Yogyakarta.
OBJEK MATERIAL DAN OBJEK FORMAL
Objek Material
= Pokok persoalan (subject matter)/pokok bahasan, dibedakan :
Arti I : Bidang khusus dari penyelidikan faktual, contoh :
- Penelitian tentang atom termasuk bidang fisika
- Penelitian tentang klorofil termasuk bidang botani atau biokimia
- Penelitian tentang alam bawah sadar termasuk bidang psikologi
Arti II : Kumpulan pertanyaan pokok yang saling berhubungan, contoh :
- Anatomi dan fisiologi keduanya bertalian dengan struktur tubuh
- Anatomi mempelajari strukturnya
- Fisiologi mempelajari fungsinya
- Keduanya mempunyai pokok persoalan yang sama, namun dapat dikatakan beda
Kesimpulan, objek material adalah sesuatu yang dijadikan sasaran pemikiran, diselidiki, dipelajari, mencakup :
- Konkrit (manusia, tumbuhan, hewan dll.)
- Abstrak (ide-ide, nilai-nilai, kerohanian)
Objek Formal
Adalah
cara memandang, cara meninjau yang dilakukan oleh seorang peneliti
terhadap objek materialnya, serta prinsip-prinsip yang digunakannya,
membedakannya dari bidang-bidang lain.
Kesimpulan :
- Para ahli di bidang ilmu tertentu mengarahkan perhatiannya pada salah satu dari objek materialnya
-
Melahirkan adanya otoritas dan otonomi (kemandirian) keilmuan, yaitu
wewenang seseorang ilmuwan untuk mengembangkan disiplin ilmunya tanpa
campur tangan pihak luar
DAFTAR PUSTAKA
Franz Magnis-Suseno, 1992, Filsafat Sebagai Ilmu Kritis, Kanisius, Yogyakarta.
Jan Hendrik Rapar, 1996, Pengantar Filsafat, Penerbit Kanisius, Yogyakarta.
Kattsoff
. Louis O., 1992, Pengantar Filsafat Judul Asli Elements of
Philosophy, alih bahasa Soejono Soemargono, Tiara Wacana, Yogyakarta.
Sudarsono, 1993, Ilmu Filsafat Suatu Pengantar, Rineka Cipta, Jakarta
Tim Dosen Filsafat Ilmu Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada, 2001, Filsafat Ilmu, Liberty, Yogyakarta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar