Kamis, 31 Mei 2012

Hakikat Fisafat

PENGERTIAN FILSAFAT

4.1.1. Uraian
Pengertian filsafat dapat didekati paling sedikit dari segi : 1) filsafat dalam arti harfiah, filsafat secara operasional, filsafat dari sudut isinya (materinya), dan filsafat sebagai product atau hasil pemilsafatan.

4.1.1.1. Filsafat dalam arti “Harafiah”
Asal kata Filsafat dari bahasa Latin “Filosofia) terdiri dari kata Filos dan Sofia
Filos = Cinta atau hasrat yang besar
Sofia = Pengetahuan yang mendalam sampai berkaitan dengan kearifan. 
Berdasarkan pembahasan secara harafiah ini filsafat berarti cinta kepada pengetahuan  atau hasrat yang besar untuk menjadi arif

4.1.1.2. Filsafat secara Operasional (Prosesnya)
Filsafat secara prosesnya atau operasionalnya adalah “cara berfilsafat”, maka filsafat adalah renungan yang mendalam (radikal) dan menyeluruh (integral), secara sistematis, sadar dan metodis dan sudah barang tentu tidak meninggalkan sifat-sifat ilmiah pada umumnya.

4.1.1.3. Filsafat dibahas dari sudut isinya (Materinya)
Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari metodologi serta hakekat kebenaran dan nilai dari ihwal terutama tentang manusia dan segala cita-citanya, dengan lingkungannya, agamanya, kehidupannya, ideologinya, hakekat dirinya dan lain-lain. Masalah hakikat di dalam ilmu filsafat dimasukkan di dalam Ontologi yang akan kita bahas di dalam modul-modul selanjutnya.
Filsafat mengenai nilai ada 3 (tiga) bagian, yaitu : 1) Aksiologi : yaitu filsafat tentang “nilai pada umumnya” misalnya : nilai tujuan filosofis suatu negara dan cara kerja yang memperhatikan nilai-nilai tertentu; 2) Etika : yaitu filsafat tingkah laku disebut The Filosophy of Conduct ; 3) Aestetika : yaitu filsafat keindahan disebut The Filosophy of Art


4.1.1.4. Filsafat sebagai Product atau Hasil Pemilsafatan
Ini merupakan “hasil” orang berfilsafat atau produk para filsuf dan para ahli pikir. Pengertian terakhir inilah yang menjadi dasar pengertian “filsafat” untuk modul-modul selanjutnya yang bersifat “Ontologis” (mempelajari hakikat kebenaran) dan bersifat “Value oriented” (aksiologis, etis atau aestitis), yang mempelajari nilai-nilainya.

4.1.1.5. Filsafat menurut para Filsuf
Arti filsafat tidak semudah dan sesederhana seperti yang disajikan dengan 4 pendekatan di atas. Literatur tentang filsafat, kita ambil satu buku saja, misalnya dari Drs Sudarsono, SH “Ilmu Filsafat Suatu Pengantar”. Dia sudah dapat mengemukakan tidak kurang dari 7 definisi yang berbeda-beda dari berbagai filsuf : Plato, Aristoteles, Al Farabi, Rene Descartes, Imanuel Kant, Langeveld, Hasbullah Bakry. Disini akan diambil beberapa contoh saja dari sekian banyak definisi-definisi itu :

1) Plato : Filsafat adalah pengetahuan yang berminat mencapai pengetahuan kebenaran yang asli.
2) Aristoteles : Filsafat adalah ilmu (pengetahuan) yang meliputi kebenaran yang terkandung di dalamnya ilmu-ilmu metafisika, logika, retorika, etika, ekonomi, politik dan estetika (filsafat keindahan).
3) Rene Descartes : Filsafat adalah kumpulan segala pengetahuan di mana Tuhan, Alam dan manusia menjadi pokok penyelidikan.
4) Immanuel Kant : Filsafat adalah ilmu (pengetahuan) yang menjadi pokok pangkal dari segala pengetahuan, yang didalamnya tercakup masalah epistemology (filsafat pengetahuan) yang menjawab persoalan apa yang dapat kita ketahui ? Masalah Etika yang menjawab persoalan apa yang harus kita kerjakan ? masalah Ke-Tuhan-an (keagamaan) yang menjawab persoalan harapan kita dan masalah manusia.

4.2. Kegiatan Belajar 2

PROBLEM SENTRAL FILSAFAT

4.2.1. Uraian

Jika pandangan-pandangan yang beraneka ragam tentang filsafat, kita rangkum, maka ternyata bahwa problema sentral filsafat adalah usaha manusia untuk mencari hakiki, keberadaannya, hakikat manusia dalam hubungan dengan alam semesta, di mana manusia itu menempatkan dirinya di dalamnya. Masalah pokok dalam hal ini adalah “the meaning of human life”, dalam rangka “the significance of the world.” Segi-segi manusia dan kemanusiaan adalah beraneka ragam, maka ruang lingkup filsafat adalah sesuai dengan segi-segi manusia dalam kaitannya dengan hakekat dunia dan alam semesta. Dengan demikian maka dikenal 2 segi pokok : 1) “The world outlook”, dan “The destiny of man”, 2) Masalah metode berpikir

4.2.1.1. “The world outlook”, dan “The destiny of man”
- Manusia selalu mencari hakikat kebenaran tentang segala hal ihwal, jika perlu sampai kebenaran yang terakhir (Sutan Takdir Alisyahbana). Manusia itu apa, dari mana asalnya, dan hendak kemana ?
- Manusia hidup selalu mencari dan menjalankan nilai-nilai hidup tertentu : hidup itu for what ? (nilai terminal), hidup itu bagaimana, bagaimana cara yang baik, how (instrumental value)

4.2.1.2. Metode Berpikir
Masalah metode berpikir meliputi dasar-dasar dan dalil bagaimana manusia berpikir secara teratur dan benar.

4.2.1.3. Cabang-Cabang Filsafat
Kedua segi ini dipelajari oleh cabang-cabang filsafat sebagai berikut :
1) Metode berpikir dipelajari oleh “metodologi” yang menghasilkan antara lain standar of valid thinking.

2) Yang mempelajari dasar-dasar pokok “pengetahuan” yang mendalam oleh manusia ialah “epistemology” (the philosophy of knowledge).
3) Yang mempelajari masalah hakikat misalnya tentang hakikat manusia dan hakikat-hakikat yang lain ialah : ‘ontologi” (the philosophy of being, of essential)
4) Yang mempelajari nilai-nilai kemasyarakatan baik nilai-nilai tujuan filisofis ialah axiology (the philosophy of value).
5) Yang mempelajari nilai-nilai akhlak, moral, budi luhur masing-masing diri manusia ialah “etika” (the philosophy of conduct).
6) Yang mempelajari nilai-nilai keindahan ialah “ estetika” (the philosophy of art).
7) Yang mempelajari ciri-ciri paling mendasar dan paling luas dari segala pengalaman manusia dipelajari oleh “metaphysika”.


4.3. Kegiatan Belajar 3

Filsafat Umum dan Filsafat Khusus

4.3.1. Uraian

Apabila dilihat dari sudut karakteristik objeknya, filsafat dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu (1) Filsafat Umum atau Filsafat Murni, dan (2) Filsafat Khusus atau Filsafat Terapan. 
Filsafat Umum mempunyai objek : (1) hakikat kenyataan segala sesuatu (Metafisika), yang termasuk di dalamnya hakikat secara keseluruhan (Ontologi),  kenyataan tentang alam atau kosmos (Kosmologi), kenyataan tentang Tuhan (Teologi); (2) hakikat mengetahui kenyataan (Epistemologi); (3) hakikat  menyusun kesimpulan pengetahuan tentang kenyataan (Logika); dan (4) hakikat menilai kenyataan (Aksiologi), antara lain tentang hakikat nilai yang berhubungan dengan baik dan jahat (Etika) serta nilai yang berhubungan dengan indah dan buruk (Estetika).
Filsafat khusus (terapan) akan dibahas tersendiri pada modul berikutnya.

4.4. Kegiatan Belajar 4

ASAL MUASAL MANUSIA BERFILSAFAT

4.4.1. Uraian
Bagaimanakah filsafat tercipta ? Apa yang menyebabkan manusia berfilsafat ? sesungguhnya ada empat hal yang merangsang manusia untuk berfilsafat, yaitu : ketakjuban, ketidakpuasan,  hasrat bertanya dan keraguan.

4.4.1.1. Ketakjuban
Banyak filsuf mengatakan bahwa yang menjadi awal kelahiran filsafat adalah thaumasia (kekaguman, keheran, atau ketakjuban). Dalam karyanya yang berjudul Metafisika, Aristoteles mengatakan bahwa karena ketakjuban manusia mulai berfilsafat. Pada mulanya manusia takjub  memandang benda-benda aneh di sekitarnya, lama kelamaan ketakjubannya semakin terarah pada hal-hal yang lebih luas dan besar, seperti perubahan dan peredaran bulan, matahari, bintang-bintang, dan asal mula alam semesta.
Objek ketakjuban ialah segala sesuatu yang ada dan dapat diamati. Itulah sebabnya, bagi Plato pengamatan terhadap bintang-bintang, matahari, dan langit merangsang manusia untuk melakukan penelitian. Penelitian terhadap apa yang diamati demi memahami hakikatnya itulah yang melahirkan filsafat.

4.4.1.2. Ketidakpuasan
Sebelum filsafat lahir, berbagai mitos dan mite memainkan peranan yang amat penting dalam kehidupan manusia. Berbagai mitos dan mite berupaya menjelaskan asal mula dan peristiwa-peristiwa yang terjadi di alam semesta serta sifat-sifat peristiwa itu. Akan tetapi, ternyata penjelasan dan keterangan yang diberikan oleh mitos dan mite-mite itu makin lama makin tidak memuaskan manusia. Ketidakpuasan inilah yang membuat manusia terus menerus mencari penjelasan dan keterangan yang lebih pasti dan meyakinkan.
Manusia yang terus menerus mencari penjelasan dan keterangan yang lebih pasti dan meyakinkan itu lambat laun mulai berpikir secara rasional. Akibatnya, akal budi semakin berperan. Berbagai mitos dan mite yang diwariskan oleh tradisi turun temurun semakin tersisih dari peranannya semula yang begitu besar dan lahirlah filsafat, yang pada masa itu mencakup seluruh ilmu pengetahuan yang ada dan telah dikenal.

4.4.1.3. Hasrat bertanya
Ketakjuban manusia telah melahirkan pertanyaan-pertanyaan, dan ketidakpuasan manusia membuat pertanyaan-pertanyaan itu tak kunjung habis. Pertanyaanlah yang membuat manusia melakukan pengamatan, penelitian, dan penyelidikan. Ketiga hal itulah yang menghasilkan penemuan baru yang semakin memperkaya manusia dengan pengetahuan yang terus bertambah.

4.4.1.4. Keraguan
Manusia selaku penanya mempertanyakan  sesuatu dengan maksud untuk memperoleh kejelasan dan keterangan mengenai sesuatu yang dipertanyakan itu.
Manusia bertanya bisa karena ia masih meragukan kejelasan dan kebenaran dari apa yang telah diketahuinya. Jadi, jelas terlihat bahwa keraguanlah yang turut merangsang manusia untuk bertanya dan terus bertanya, yang kemudian menggiring manusia untuk berfilsafat.


4.5. Kegiatan Belajar 5

SIFAT DASAR FILSAFAT

4.5.1. Uraian
Menurut Rapar (1996) paling sedikit ada lima sifat dasar filsafat, yaitu : (1) berpikir radikal, (2) mencari asas, (3) memburu kebenaran, (4) mencari kejelasan, (5) berpikir rasional.

4.5.1.1. Berpikir Radikal
Berfilsafat berarti berpikir secara radikal. Filsuf adalah pemikir yang radikal. Karena berpikir secara radikal, ia tidak pernah berhenti hanya pada suatu fenomena suatu entitas tertentu. Ia tidak akan pernah berhenti hanya pada suatu wujud realitas tertentu. Keradikalan berpikirnya itu senantiasa mengobarkan hasratnya untuk menemukan akar seluruh kenyataan.
Bagi seorang filsuf, hanya apabila akar atau radix realitas telah ditemukan, segala sesuatu yang bertumbuh di atas akar itu akan dapat dipahami. Hanya bila akar suatu permasalahan telah ditemukan, permasalahan itu dapat dimengerti sebagaimana mestinya.

4.5.1.2. Mencari Asas
Filsafat bukan hanya mengacu kepada bagian tertentu dari realitas, melainkan kepada keseluruhannya. Dalam memandang keseluruhan realitas, filsafat senantiasa berupaya mencari asas yang paling hakiki dari keseluruhan realitas. Seorang filsuf akan selalu berupaya untuk menemukan asas yang paling hakiki dari realitas.
Mencari asas pertama berarti juga menemukan sesuatu yang menjadi esensi realitas. Dengan menemukan esensi suatu realitas, realitas itu dapat diketahui dengan pasti dan menjadi jelas. 

4.5.1.3. Memburu Kebenaran
Filsuf adalah pemburu kebenaran. Kebenaran yang diburunya adalah kebenaran hakiki tentang seluruh realitas dan setiap hal yang dapat dipersoal¬kan. Oleh sebab itu, dapat dikatakan bahwa berfilsafat berarti memburu kebenaran tentang segala sesuatu.
Tentu saja kebenaran yang hendak digapai bukanlah kebenaran yang meragukan. Untuk memperoleh kebenaran yang sungguh-sungguh dapat di¬pertanggungjawabkan, setiap kebenaran yang telah diraih harus senantiasa terbuka untuk dipersoalkan kembali dan diuji demi meraih kebenaran yang lebih pasti. Demikian seterusnya.
Jelas terlihat bahwa kebenaran filsafati tidak pernah bersifat mutlak dan final, melainkan terus bergerak dari suatu kebenaran menuju kebenaran baru yang lebih pasti. Kebenaran yang baru ditemukan itu juga terbuka untuk dipersoalkan kembali demi menemukan kebenaran yang lebih meyakinkan.dengan demikian, terlihat bahwa salah satu sifat dasar filsafat ialah memburu kebenaran. Upaya memburu kebenaran itu adalah demi kebenaran itu sendiri, dan kebenaran yang diburu adalah kebenaran yang meyakinkan serta lebih pasti.

4.5.1.4. Mencari Kejelasan
Salah satu penyebab lahirnya filsafat ialah keraguan. Untuk menghilang¬kan keraaguan diperlukan kejelasan. Ada filsuf yang mengatakan bahwa
berfilsafat berarti berupaya mendapatkan kejelasan dan penjelasan mengenai seluruh realitas. Ada pula yang mengatakan bahwa filsuf senantiasa mengejar keje!asan pengertian (clarity of understanding). Geisler dan Feinberg mengatakan bahwa ciri khas penelitian filsafati ialah adanya usaha keras demi meraih kejelasan intelektual (intellectual clarity).' Dengan demikian, dapat mengatakan bahwa berpikir secara filsafati berarti berusaha memperoleh ke¬kejelasan.
Mengejar kejelasan berarti harus berjuang dengan gigih untuk mengelimi¬nasi segala sesuatu yang tidak jelas, yang kabur, dan yang gelap, bahkan juga yang serba rahasia dan berupa teka-teki. Tanpa kejelasan, filsafat pun akan menjadi sesuatu yang mistik, serba rahasia, kabur, gelap, dan tak mung¬kin dapat menggapai kebenaran.
Jelas terlihat bahwa berfilsafat sesungguhnya merupakan suatu perjuang¬an untuk mendapatkan kejelasan pengertian dan kejelasan seluruh realitas. Perjuangan mencari kejelasan itu adalah salah satu sifat dasar filsafat.

4.5.1.5. Berpikir Rasional
Berpikir secara radikal, mencari asas, memburu kebenaran, dan mencari kejelasan tidak mungkin dapat berhasil dengan baik tanpa berpikir secara rasional. Berpikir secara rasional berarti berpikir logis, sistematis, dan kritis. Berpikir logis adalah bukan hanya sekedar menggapai pengertian-pengertian yang dapat diterima oleh akal sehat, melainkan agar sanggup menarik kesim¬pulan dan mengambil keputusan yang tepat dan benar dari premis-premis yang digunakan 
4.6. Kegiatan Belajar 7

KEGUNAAN FILSAFAT

4.6.1. Uraian
Paling tidak ada empat kegunaan filsafat bagi manusia, diantaranya adalah :
- Mendidik dan melatih manusia unt merumuskan pikiran-pikiran secara logis, sistematis, objektif, methodis dan “ gambling”.
- Membantu manusia unt menelaah suatu masalah tdk hanya terhenti pada fenomena atau gejala penampakan saja, tetapi sanggup membantu mengungkapkan suatu masalah sampai kepada masalah hakikinya.
- Membantu manusia meningkatkan kecerdasan dan tanggung jawab terutama kepada hati nuraninya sendiri.
- Memberikan pelita dalam masalah-masalah ilmu dan iman



DAFTAR PUSTAKA

Franz Magnis-Suseno, 1992, Filsafat Sebagai Ilmu Kritis, Kanisius, Yogyakarta.
Jan Hendrik Rapar, 1996, Pengantar Filsafat, Penerbit Kanisius, Yogyakarta.
Kattsoff . Louis O., 1992, Pengantar Filsafat Judul Asli Elements of Philosophy, alih bahasa Soejono Soemargono, Tiara Wacana, Yogyakarta.
Sudarsono, 1993, Ilmu Filsafat Suatu Pengantar, Rineka Cipta, Jakarta
Tim Dosen Filsafat Ilmu Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada, 2001, Filsafat Ilmu, Liberty, Yogyakarta.

OBJEK MATERIAL DAN OBJEK FORMAL

Objek Material
= Pokok persoalan (subject matter)/pokok bahasan, dibedakan :

Arti I : Bidang khusus dari penyelidikan faktual, contoh :
- Penelitian tentang atom termasuk bidang fisika
- Penelitian tentang klorofil termasuk bidang botani atau biokimia
- Penelitian tentang alam bawah sadar termasuk bidang psikologi

Arti II : Kumpulan pertanyaan pokok yang saling berhubungan, contoh :
- Anatomi dan fisiologi keduanya bertalian dengan struktur tubuh
- Anatomi mempelajari strukturnya
- Fisiologi mempelajari fungsinya
- Keduanya mempunyai pokok persoalan yang sama, namun dapat dikatakan beda

Kesimpulan, objek material adalah sesuatu yang dijadikan sasaran pemikiran, diselidiki, dipelajari, mencakup : 
- Konkrit (manusia, tumbuhan, hewan dll.)
- Abstrak (ide-ide, nilai-nilai, kerohanian)

Objek Formal
Adalah cara memandang, cara meninjau yang dilakukan oleh seorang peneliti terhadap objek materialnya, serta prinsip-prinsip yang digunakannya, membedakannya dari bidang-bidang lain.

Kesimpulan :
- Para ahli di bidang ilmu tertentu mengarahkan perhatiannya pada salah satu dari objek materialnya
- Melahirkan adanya otoritas dan otonomi (kemandirian) keilmuan, yaitu wewenang seseorang ilmuwan untuk mengembangkan disiplin ilmunya tanpa campur tangan pihak luar

DAFTAR PUSTAKA 

Franz Magnis-Suseno, 1992, Filsafat Sebagai Ilmu Kritis, Kanisius, Yogyakarta.
Jan Hendrik Rapar, 1996, Pengantar Filsafat, Penerbit Kanisius, Yogyakarta.
Kattsoff . Louis O., 1992, Pengantar Filsafat Judul Asli Elements of Philosophy, alih bahasa Soejono Soemargono, Tiara Wacana, Yogyakarta.
Sudarsono, 1993, Ilmu Filsafat Suatu Pengantar, Rineka Cipta, Jakarta
Tim Dosen Filsafat Ilmu Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada, 2001, Filsafat Ilmu, Liberty, Yogyakarta.

Selasa, 29 Mei 2012

Filsafat Pendidikan

ILMU ( SCIENCE ) ADALAH CABANG DARI PENGETAHUAN ( KNOWLEDGE )
ILMU = PENGETAHUAN YANG BERSIFAT ILMIAH ( SCIENTIFIC KNOWLEDGE ) 
·         KATEGORI PENGETAHUAN :
1.       PENGETAHUAN TENTANG APA YANG BAIK DAN BURUK ( ETIKA )
2.       PENGETAHUAN TENTANG APA YANG INDAH DAN JELEK (ESTETIKA )
3.       PENGETAHUAN TENTANG APA YANG BENAR DAN SALAH ( LOGIKA ) LOGIKA : CARA BERFIKIR MENURUT ATURAN TERTENTU DALAM KEGIATAN KEILMUAN, LOGIKA ( AKTIVITAS BERFIKIR YANG TERATUR ) DIIKUTI DENGAN PENUH KEDISIPLINAN ILMU PENGETAHUAN MUNCUL AKIBAT KEKAGUMAN MANUSIA ATAS FENOMENA ALAM DAN SOSIAL YANG SELALU DIHADAPINYA.
 
·         PROSES BERFIKIR :
1.       BERFIKIR RASIONAL – PROSES UNTUK MENDAPATKAN PEMAHAMAN DAN PENGETAHUAN DENGAN MENGGUNAKAN AKAL-BUDI
2.       BERFIKIR LOGIKAL – PROSES UNTUK MENDAPATKAN PEMAHAMAN DAN PENGETAHUAN DENGAN MENGGUNAKAN TEKNIK BERFIKIR YANG TELAH DITETAPKAN DALAM ATURAN LOGIKA FORMAL
3.       BERFIKIR DIALEKTIS – PROSES MENETAPKAN TESIS DAN ANTI TESIS UNTUK MEMPEROLEH SINTESIS
4.       BERFIKIR INTUITIF – PROSES UNTUK MENDAPATKAN PENGETAHUAN DENGAN SEGERA TANPA TERLALU MEMPERDULIKAN PROSEDUR DAN LANGKAH UNTUK SAMPAI PADA PENGETAHUAN TERSEBUT
5.       BERFIKIR TAKSONOMIS – PROSES UNTUK MEMPEROLEH PENGETAHUAN DENGAN MENYUSUN KLASIFIKASI, TUJUANNYA ADALAH MENYEDERHANAKAN FENOMENA DAN GEJALA DALAM KATEGORI
6.       BERFIKIR SIMBOLIS – PROSES UNTUK MEMPEROLEH PEMAHAMAN DAN PENGETAHUAN DENGAN MELIHAT FENOMENA SEBAGAI LAMBANG ( SIMBOL ) ILMU ( PENGETAHUAN ILMIAH ) TIDAK BERTUJUAN UNTUK MENCARI KEBENARAN ABSOLUT, MELAINKAN KEBENARAN YANG BERMANFAAT BAGI MANUSIA DALAM TAHAP PERKEMBANGAN TERTENTU UNTUK MEMPEROLEH KEBENARAN BISA DICAPAI DENGAN DUA CARA : NON-ILMIAH DAN ILMIAH
ü  NON-ILMIAH :
a)      AKAL-SEHAT ( COMMON SENSE ) – YAITU MENYUSUN DAN MEMBUAT GENERALISASI ATAS FENOMENA DENGAN MENGGUNAKAN AKAL-SEHAT;
b)      PRASANGKA ( PRESUMPTION ) – MEMPEROLEH PENGETAHUAN DENGAN MEMBUAT GENERALISASI YANG SANGAT LUAS SEHINGGA TIMBUL SANGKA/DUGAAN KEBENARAN ATAS SUATU FENOMENA
c)       INTUISI ( INTUITION )- PENGETAHUAN YANG DIPEROLEH SECARA CEPAT YANG TIDAK DIDASARI OLEH PERENUNGAN YANG MENDALAM ATAU TIDAK DIFIKIRKAN TERLEBIH DAHULU
d)      PENEMUAN KEBETULAN / COBA-COBA – PENGETAHUAN YANG DIPEROLEH TANPA RENCANA, TIDAK PASTI, DAN TIDAK MELALUI LANGKAH-LANGKAHYANG SISTEMATIK DAN TERKENDALI
e)      PENDAPAT OTORITAS ILMIAH DAN FIKIRAN KRITIS – PENDAPAT YANG BERASAL DARI ORANG YANG MEMPUNYAI OTORITAS KEILMUAN ( BERPENDIDIKAN ) YANG TINGGI SERINGKALI DITERIMA TANPA DIUJI KARENA TELAH DIANGGAP BENAR ILMIAH : UPAYA UNTUK MEMPEROLEH KEBENARAN LEWAT PENDEKATAN / PENELITIAN ILMIAH YAITU PENELITIAN YANG SISITEMATIK DAN TERKONTROL BERDASAR ATAS DATA EMPIRIS, OBYEKTIF DAN TIDAK BIAS 
*      TUGAS ILMU ADALAH UNTUK :
1)      MENCANDRA / MEMBUAT DESKRIPSI;
2)      MENERANGKAN / EKSPLANASI;
3)      MENYUSUN TEORI;
4)      MEMBUAT PREDIKSI, ESTIMASI DAN PROYEKSI;
5)      MELAKUKAN PENGENDALIAN KRITERIA KEBENARAN KOHERENSI KORESPONDENSI PRAGMATIS LOGIKA DEDUKTIF LOGIKA INDUKTIF LOGIKA PRAGMATIS * PLATO * ARISTOTELES SUATU PERNYA-TAAN DIANGGAP BENAR APABILA PERNYATAAN ITU KOHEREN / KONSIS-TEN DENGAN PERNYATAAN SEBELUMNYA YANG DIANGGAP BENAR. MISALNYA : “SEMUA MANUSIA PASTI AKAN MATI. SI FULAN ADALAH MANUSIA DAN PASTI IA AKAN MATI ” *BERTRAND RUSSEL SUATU PERNYA-TAAN ADALAH BENAR BILA PERNYATAAN ITU BERKORES-PONDENSI DENGAN OBYEK YANG DI- TUJU OLEH PER-NYATAAN TERSEBUT. MISAL-NYA : “IBUKOTA RI ADALAH JAKARTA”. ITU ADALAH SUATU PEMBUKTIAN SECARA EMPIRIK DALAM BENTUK PENGUMPULAN FAKTA-FAKTA YANG MENDUKUNG PERNYATAAN TERTENTU. * CHARLES PIERSE SUATU PERNYA-TAAN ADALAH BENAR BILA PERNYATAAN ATAU KONSEKWENSI DARI PERNYATAAN ITU MEMPUNYAI KEGU-NAAN PRAKTIS DA-LAM KEHIDUPAN MANUSIA. MISAL-NYA : “DENGAN DI BERI GANJARAN / HADIAH SI MURID AKAN TERMOTIVASI BELAJAR DENGAN BAIK “
*      FILSAFAT ILMU SEBAGAI SALAH SATU CABANG ILMU FILSAFAT ADALAH MERUPAKAN KEGIATAN MEREFLEKSI SECARA MENDASAR DAN INTEGRAL MENGENAI HAKEKAT ILMU PENGETAUAN ( Kunto Wibisono : 1999 )
*      OBYEK FILSAFAT ILMU ADALAH MERUPAKAN TIANG-TIANG PENYANGGA EKSISTENSI ILMU PENGETAHUAN YANG MELIPUTI ;
1.       ONTOLOGI : MENGKAJI APA HAKEKAT SESUATU ITU ? FAHAM-FAHAM SEPERTI IDEALISME, SPIRITUALISME, MATERIALISME DSB. ADALAH MERUPAKAN FILSAFAT ONTOLOGI.
2.       EPISTEMOLOGI : MENGKAJI TENTANG BAGAMANA CARA YANG DIPAKAI UNTUK MEMPEROLEH PENGETAHUAN, APA SARANANYA DAN APA UKURAN YANG DIPAKAI UNTUK MEMPEROLEH KEBENARAN ? FAHAM-FAHAM RASIONALISME, EMPIRISME, KRITISISME, POSITIVISME DAN FENOMENALOGISME TERMASUK KE DALAM FILSAFAT EPISTEMOLOGI.
3.       AKSIOLOGI : MENGKAJI TENTANG NILAI ( VALUE ) SEBAGAI IMPERATIF DALAM PENERAPAN DAN PEMANFAATAN ILMU SECARA PRAKSIS.
KUNTO WIBISOSNO (1999) MENYATAKAN BAHWA ILMU PENGETAHUAN SEBAGAI SATU KESATUAN MENAMPAKKAN DIRI SECARA DIMENSIONAL :
a)      SEBAGAI MASYARAKAT – ADANYA SEKELOMPOK ELIT YANG DALAM KEHIDUPANNYA MENDAMBAKAN KEWAJIBAN DAN TANGGUNGJAWAB;
b)      SEBAGAI PROSES – ADALAH AKTIFITAS MASYARAKAT ILMIAH SEPERTI PENELITIAN, SEMINAR, PERCOBAAN DSB. MENCARI DAN MENEMUKAN SESUATU HASIL YANG PRAGMATIS ; DAN
c)       SEBAGAI PRODUK – MENUNJUKAN HASIL-HASIL YANG BERUPA KARYA ILMIAH, TEORI-TOERI, PARADIGMA-PARADIGMA BESERTA HASIL TERAPANNYA YANG BERUPA TEKNOLOGI. ILMU SEBAGAI PRODUK ADALAH BEBAS NILAI ; SEDANGKAN ILMU SEBAGAI MASYARAKAT DAN PROSES YANG SELALU BERADA DALAM KONTEKS SELALU TERIKAT OLEH NILAI. ILMU SEBAGAI PRODUK PUN, SEBENARNYA APABILA DITERAPKAN SECARA PRAKTIS UNTUK MENCAPAI TUJUAN SECARA IMPLISIT SUDAH DIKENDALIKAN OLEH NILAI !
*      ALIRAN-ALIRAN UTAMA EPISTEMOLOGI ILMU 1.POSITIVISME AUGUSTE COMTE UPAYA MENGGENERALISASI :
o   1.1.GRAND THEORY ‘ HUKUM TIGA TAHAP PERKEMBANGAN ‘ , PERKEMBANGAN PEMIKIRAN MANUSIA TERBAGI MENJADI TIGA TAHAP :
1)      TAHAP TEOLOGIS ATAU FIKTIF;
2)      TAHAP METAFISIK ATAU ABSTRAK;
3)      TAHAP POSITIF ATAU RIIL
o   1.2.MENOLAK TEOLOGI DAN METAFISIK KARENA KEDUANYA DINILAI PRIMITIF
o   1.3.LEBIH DIDASARKAN PADA PENELITIAN EMPIRIK DARIPADA SPEKULASI FILOSOFIK
o   1.4.ILMU YANG VALID ADALAH ILMU YANG DIBANGUN DARI EMPIRI MENUJU KEBENARAN ‘EMPIRI SENSUAL’
o   1.5.MENGEMBANGKAN METODOLOGI ’NOMOTETIK/AKSIOMATIK’
o   1.6.METODOLOGI PENELITIAN KUANTITATIF
o   1.7.PENDEKATAN POSITIVISTIK DENGAN : A) MENGGUNAKAN POLA PIKIR KUANTITATIF YANG TERUKUR, TERAMATI, EMPIRI SENSUAL, LOGIKA MATEMATIK DAN BERTUJUAN MEMBUAT GENERALISASI ATAS RERA-TA ; B) MENGGABUNGKAN OLAHAN STATISTIK DENGAN OLAHAN VERBAL DENGAN POLA PIKIR KUANTITATIF
o   1.8.KEBENARAN DICARI LEWAT POLA PIKIR RELASI ( KORELASIONAL, SEBAB-AKIBAT, INTERAKTIF ),

Minggu, 13 Mei 2012

( づ˛˘•)


bagaimana mungkin bersama,
jika hanya aku yang punya cinta
bagaimana mungkin aku bicara cinta,
jika kau tak memiliki rindu untuk ku
bagaimana mungkin kau dapat mengerti aku,
jika nama ku pun tak pernah ada di hatimu
maaf, telah membuatmu resah
maaf, telah membuatmu susah
maaf, telah membuatmu gelisah
maaf, telah membuatmu gundah

tapi ku yakin, cinta ini pun tak akan pernah salah
bahkan kalaupun harus kau bagi cinta ini untuknya

maii mom :*


My mother is a wonderful mom. She looks beautiful because she has brightest skin in my family. You must be wonder about my skin. Mine is dark. It is inherited from my father and I would not tell about him. Back to begin. My mother has a pointed nose and little eyes. Her eyebrows are almost invisible because they are so rare. She has quite fat body and her height is 3 cm under me. She is short woman, but I don’t care about it. I love her.
I will not tell you about her hair, because it is a secret. My mother always wears veil to cover her head and her chest cavity everywhere and every time. All veils that she wears always have big size and they become her identity. Now she inherited her habit to me.  she has full love to give to her children. I’m proud of being her daughter :D

Kamis, 10 Mei 2012

Dwitasari :): Seminggu Setelah Kepergianmu

Dwitasari :): Seminggu Setelah Kepergianmu: Tak ada lagi kamu yang memenuhi kotak inbox di handphone-ku. Tak ada lagi sapamu sebelum tidur yang membuncah riuh di telingaku. Tak ada lag...

Rabu, 09 Mei 2012

Dwitasari :): Musikalisasi Puisi - Mengais Masa Lalu

Dwitasari :): Musikalisasi Puisi - Mengais Masa Lalu: Kamu selalu mengajariku mengais-ngais masa lalu   Memaksaku untuk kembali menyentuh kenangan   Terdampar dalam bayang-bayang yang ka...

Dwitasari :): Kita (mungkin) Belum Benar-Benar Putus

Dwitasari :): Kita (mungkin) Belum Benar-Benar Putus: Mungkin, dulu aku tak benar-benar mencintaimu, ketika jantungmu berdetak lebih cepat saat bertemu denganku, aku tak merasakan jantungku...

Sabtu, 05 Mei 2012

SEKEDAR MENGENANGMU (Izinkan Kau Satu Untukku)



tingkahnya mengingatkanku pada semua kenangan yang pernah kulalui bersamanya, senyumnya yang begitu menggoda, tak ada satupun yang bisa menghapus dirinya dari hidupku, takkan aku buang dia dihatiku .
masih ku ingat pesan itu  ..
"Maafkan aku tak bisa lama menjagamu :(
jaga dirimu, kesehatanmu, hatimu dan cintamu untukku selamanya"
Kau telah memilihku yang terbaik menjadi yang terbaik dalam hidupmu. menjaga hati untuk tidak menduakanku, mengasihiku, menyayangiku bahkan kau rela menangis demi tidak jauh dariku .
tapi apakah semua itu harus terenggut ?
Kadang aku pahami kalimatmu saat kau dilema, kadang pula aku dibuat bingung dengan pilihan yang kata yang kau ucapkan. aku telah yakin bahwa kau adalah pilihan untukku, takkan ada yang terenggut siapapun baik aku atau kamu .
Semenjak kejadian itu, kamu benar nyata meninggalkanku, benar* merelakanku untuk mencari yang lain namun, apalah arti seuntai hati jika tak sejalan dengan mimpi ?
Teringat dirimu lagi..
 Aku saat itu, jangan kau tanyakan mengapa tangis ini ada, karena jawabku sama dengan bisikmu, jangan kau lelehkan air matamu karena aku tak ingin kau menangis olehku .  Kisah airmata yang tak sanggup berkata* selain kesesakan dijiwa. Maaf jika waktumu terjerah karena aku,bukan maksudku membuatmu begitu, hanya saja aku tak mau kau jauh dariku karena kau adalah mimpi dalam tidur panjangku .
Dari sekian detik yang terlewati, saat seprti inilah bahasaku tak bisa aku jabarkan, karena sayang atau tegakah aku menyuruhnya pergi ?, Suci atau serakahkah aku apabila harus memilihnya ?
Kenangan itu semakin membuatku pilu :’(
Kini aku datang atas nama rindu yang tenggelam sebab mencintaimu tak ubahnya mencintai diriku sendiri. Terpikir saat kau jauh dariku, gelisah saat tak ada kabar darimu, sedih waktu kau merana, aku berpikir kaulah pemilik dari separuh jantung ini yang selalu menuntut  kepenuhannya.
Aku memanggilmu lewat pahatan kata tulisan catatan ini bahwa aku masihlah seperti dulu –merengkuh cintamu- sepertisaat kau tergelak* untukku ..
“bersama rintikan airmata ini, telahku semaikan sebuah bahasa kalbu
Bersama angin malam ini, takku lepas bayangmu dalam wajah bulanku
Bersama sejuk heningku, ku titip rindu ini padamu. Maaf jika aku telah mengusik ketentraman batinmu karena aku telah tak mampu lagi menahan beban yang kubawa ini dari jiwaku yang selalu merindu padamu”
Aku tak ingin membuatmu terluka, mencintaimu yang telah tiada ketika . ketika kembali bersuara bahwa kau mencintaiku disana . aku tak  ingin ada duka, sidenyummu yang dulu membuatku terkesima . sekalipun diri ini berhenti berkata, cobalah mengerti tentang kita .
Hari ini, jelang kepergianmu .
Ternyata kau telah memiliki hati lain setelahku, telah melewati masa kenang kita selamanya .
1 hal yang ingin kau tahu “IZINKAN KAU SATU UNTUKKU” :)

Kamis, 03 Mei 2012

this is my mind ?


apa kabarmu hari ini ? setelah sekian lama kita tak saling berkabar, nampaknya ada banyak yang berubah dan mungkin saja ada banyak hal baru yang tidak ku ketahui. Tapi, aku berharap agar dirimu tak pernah berubah, meskipun kita memang tak terlalu sering bertatapan mata.
Aku dan kamu selalu meyakinkan diri kita masing-masing, bukankah semua kebersamaan nyata dan maya ini adalah wujud perhatian sederhana ? Tak ada panggilan sayang ataupun sepotong percakapan yang dilakukan secara intensif, tapi hal itu tak menghalangi kita untuk saling mendoa’kan. Mungkin, inilah definisi perhatian yang sebenarnya. Tak perlu dilebih-lebihkan, tak perlu ditunjukkan. Perhatian menunjukkan tubuhnya sendiri, walau terpisah jarak ratusan kilometer.
Ceritakan padaku tentang rencana masa depanmu. Kita terlalu jarang berbicara tentang itu. Ceritakan padaku tentang apa yang selama ini kamu rasakan. Aku dan kamu selalu takut untuk mengetahui kenyataan. Di sinilah batas keteguhan hati kita diuji, seberapa besar kekuatan doamu dan doaku saling menyentuh dan menghangatkan satu sama lain. Inilah keterbatasan kita sebagai manusia yang tidak utuh. Walau tak ada tatapan mata, tapi hati terus berkata-kata. Selama ini kita terlalu rela dibunuh oleh jarak. Selama ini kita terlalu rapuh dipermainkan oleh waktu. Akankah ini saatnya untuk menyadarkan diri ?
Namun.. semakin aku memaksakan diri untuk mengetahui, semakin aku merasa tak mengerti. Ada semesta rumit yang mengorbit dalam peredaran nafas. Tercipta semacam negeri antah berantah yang menjadikan kita sebagai penduduk yang hidup didalamnya. Aku kebingungan, mungkin juga kamu.
Ah.. bagaimanapun rumitnya permasalahan kita, aku dan kamu tetap saja senang menyangkal diri. Kita belum siap direpotkan oleh perasaan aneh yang meletup-letup walau dalam kebisuannya itu. Aku dan kamu masih menikmati masa-masa ini. Kita masih ingin tuhan merahasiakan rencananya. Bukankah aku dan kamu senang pada hal-hal yang tak pasti ? Iyaa.. seperti apa yang kita jalani selama ini, karena sesuatu yang tak pasti menyembunyikan banyak tantangan tersendiri.