Senin, 01 April 2013
Bukan Kisah Yang terlalu Penting =")
|
Reaksi:
|
Aku masih merasakan sesak yang
sama. Aku tahu bahwa pada akhirnya aku akan sesedih ini, aku berusaha
menghindari air mata sekuat yang aku bisa. Tapi, kautahu, aku adalah wanita
paling tidak kuat menahan kesedihan. Kamu mendengar ceritaku tentang pria itu
kan? Aku selalu bercerita padamu tentang dia. Seberapa dalamnya perasaanku,
seberapa kuat cinta makin menerkamku, dan seberapa hebat senyumnya bisa begitu
meneguhkan langkahku.
Kamu tentu tahu seberapa dalam
perasaanku padanya dan betapa aku takut perbedaan aku dan dia menjadi jurang.
Aku tak pernah memikirkan perpisahan selama ini, tapi ternyata hal yang begitu
tak ingin kupikirkan pada akhirnya terpaksa masuk otakku. Aku dan dia tak lagi
seperti dulu. Sapaannya tak lagi sehangat dulu, senyumnya tak lagi semanis
dulu, dan tawanya tak lagi serenyah dulu. Aku tak tahu perubahan macam apa yang
membuat sosok pria itu begitu berbeda.
Dari semua sikapku, tak mungkin
kautak tahu aku punya perasaan lebih padanya. Dari semua ceritaku, tak mungkin
kautak paham bahwa aku mulai jatuh cinta padanya. Aku terlalu banyak diam dan
memendam, mungkin di situlah kesalahanku. Terlalu egois mengatakan dan terlalu
takut mengungkapkan. Aku tak bisa menyalahkan siapa-siapa dan tak bisa
mengkambinghitamkan siapa pun. Bukankah dalam cinta tak pernah ada yang salah?
Mengetahui kenyataan yang mencekam
seperti itu, aku jadi malas tersenyum dan berbicara banyak tentang perasaanku
pada orang lain. Aku malah semakin belajar untuk menutup rapat-rapat mulutku
pada setiap perasaan yang minta diledakkan lewat curhat-curhat kecil.
Untuk kamu , calon penggantiku dihatinya ...
Berbahagialah kamu bersama pria itu,
pria yang selalu kubawa dalam cerita-ceritaku. Pria yang bagiku terlalu tinggi
untuk kugapai dan terlalu misterius untuk kumengerti jalan pikirannya. Mungkin nanti saat
melihatmu dengan pria itu, aku berusaha meyakinkan diriku; bahwa aku juga harus
ikut berbahagia melihatmu dengannya. Sejatinya, cinta adalah ikhlas melihat
orang yang kucintai bahagia meskipun ia tak pernah menjadikanku pilhan
satu-satunya.
Tenanglah, aku sudah mulai
melupakannya. Sudah ada seorang pria baru, yang tak begitu kucintai, tapi
kehadirannya bisa sedikit mengundang senyum di bibirku. Aku tak tahu, apakah
perasaanku pada pria baru itu adalah cinta. Aku tak berusaha memahami, apakah
hubungan yang kami jalani selama ini adalah ketertarikan sesaat atau hanya
sarana untuk menyembuhkan luka hatiku? Kami tertawa bersama, menghabiskan waktu
berdua, tapi segalanya terasa biasa saja. Tak ada ledakkan yang begitu
menyenangkan ketika aku bertatap mata dengannya.
Pria yang selalu kuceritakan selalu berbentuk gumpalan bayang-bayang di otakku. Semakin aku berusaha melawan, semakin aku tak bisa menerima bahwa segalanya tak lagi sama. Aku tak ingin ingatanku dan perasaanku yang dulu begitu besar pada masa lalu menjadi penyiksa untuk pria baru yang ingin membahagiakanku kelak. Aku hanya berusaha mengerti yang terjadi dan berusaha pasrah dengan kenyataan yang memang harus kuketahui. Aku tak ingin dibohongi oleh kesemuan yang membahagiakan, lebih baik kenyataan yang memuakan tapi penuh kejelasan.
Pria yang selalu kuceritakan selalu berbentuk gumpalan bayang-bayang di otakku. Semakin aku berusaha melawan, semakin aku tak bisa menerima bahwa segalanya tak lagi sama. Aku tak ingin ingatanku dan perasaanku yang dulu begitu besar pada masa lalu menjadi penyiksa untuk pria baru yang ingin membahagiakanku kelak. Aku hanya berusaha mengerti yang terjadi dan berusaha pasrah dengan kenyataan yang memang harus kuketahui. Aku tak ingin dibohongi oleh kesemuan yang membahagiakan, lebih baik kenyataan yang memuakan tapi penuh kejelasan.
Aku mohon, jagalah pria itu dengan
susah payah, dengan sekuat tenagamu. Aku ingin kebahagiaannya terjamin olehmu.
Aku ingin dia bahagia bersamamu. Di sini, aku tak bisa berbuat banyak, selain
membantu dalam doa.
Aku tak sempat membuat dia
tersenyum. Tolong, inilah permintaanku yang terakhir, setelah ini aku tak akan
mengganggumu; bahagiakan dia, buatlah dia terus tersanyum, dan biarkan saja dia
tak tahu ada seseorang yang terluka diam-diam di sini.
Mungkin , aku yang berharap banyak =")
Rasanya semua
terjadi begitu cepat, kita berkenalan lalu tiba-tiba merasakan perasaan yang
aneh. Setiap hari rasanya berbeda dan tak lagi sama. Kamu hadir membawa banyak
perubahan dalam hari-hariku. Hitam dan putih menjadi lebih berwarna ketika
sosokmu hadir mengisi ruang-ruang kosong di hatiku. Tak ada percakapan yang
biasa, seakan-akan semua terasa begitu ajaib dan luar biasa. Entahlah, perasaan
ini bertumbuh melebihi batas yang kutahu.
Aku menjadi takut kehilangan kamu.
Siksaan datang bertubi-tubi ketika tubuhmu tidak berada di sampingku. Kamu
seperti mengendalikan otak dan hatiku, ada sebab yang tak kumengerti
sedikitpun. Aku sulit jauh darimu, aku membutuhkanmu seperti aku butuh udara.
Napasku akan tercekat jika sosokmu hilang dari pandangan mata. Salahkah jika
kamu selalu kunomorsatukan?
Tapi... entah mengapa sikapmu tidak
seperti sikapku. Perhatianmu tak sedalam perhatianku. Tatapan matamu tak
setajam tatapan mataku. Adakah kesalahan di antara aku dan kamu? Apakah kamu
tak merasakan yang juga aku rasakan?
Kamu mungkin belum terlalu paham
dengan perasaanku, karena kamu memang tak pernah sibuk memikirkanku. Berdosakah
jika aku seringkali menjatuhkan air mata untukmu? Aku selalu kehilangan kamu,
dan kamu juga selalu pergi tanpa meminta izin. Meminta izin? Memangnya aku
siapa? Kekasihmu? Bodoh! Tolol! Hadir dalam mimpimu pun aku sudah bersyukur,
apalagi bisa jadi milikmu seutuhnya. Mungkinkah? Bisakah?
Janjimu terlalu banyak, hingga aku
lupa menghitung mana saja yang belum kamu tepati. Begitu sering kamu menyakiti,
tapi kumaafkan lagi berkali-kali. Lihatlah aku yang hanya bisa terdiam dan
membisu. Pandanglah aku yang mencintaimu dengan tulus namun kau hempaskan
dengan begitu bulus. Seberapa tidak pentingkah aku? Apakah aku hanyalah
persimpangan jalan yang selalu kau abaikan – juga
kautinggalkan?
Apakah aku tak
berharga di matamu? Apakah aku hanyalah boneka yang selalu ikut aturanmu? Di
mana letak hatimu?! Aku tak bisa bicara banyak, juga tak ingin mengutarakan
semua yang terlanjur terjadi. Aku tak berhak berbicara tentang cinta, jika
kauterus tulikan telinga. Aku tak mungkin bisa berkata rindu, jika berkali-kali
kauciptakan jarak yang semakin jauh. Aku tak bisa apa-apa selain memandangimu
dan membawa namamu dalam percakapan panjangku dengan Tuhan.
Sadarkah jemarimu
selalu lukai hatiku? Ingatkah perkataanmu selalu menghancurleburkan
mimpi-mimpiku? Apakah aku tak pantas bahagia bersamamu? Terlau banyak
pertanyaan. Aku muak sendiri. Aku mencintaimu yang belum tentu mencintaiku. Aku
mengagumimu yang belum tentu paham dengan rasa kagumku.
Aku bukan siapa-siapa di matamu, dan tak akan pernah menjadi siapa-siapa. Sebenarnya, aku juga ingin tahu, di manakah kauletakkan hatiku yang selama ini kuberikan padamu. Tapi, kamu pasti enggan menjawab dan tak mau tahu soal rasa penasaranku. Siapakah seseorang yang telah beruntung karena memiliki hatimu?
Mungkin... semua memang salahku. Yang menganggap semuanya berubah sesuai keinginanku. Yang bermimpi bisa menjadikanmu lebih dari teman. Salahkah jika perasaanku bertumbuh melebihi batas kewajaran? Aku mencintaimu tidak hanya sebagi teman, tapi juga sebagai seseorang yang bergitu bernilai dalam hidupku.
Namun, semua jauh
dari harapku selama ini. Mungkin, memang aku yang terlalu berharap terlalu
banyak. Akulah yang tak menyadari posisiku dan tak menyadari letakmu yang sengguh
jauh dari genggaman tangan. Akulah yang bodoh. Akulah yang bersalah!
Tenanglah, tak
perlu memerhatikanku lagi. Aku terbiasa tersakiti kok, terutama jika sebabnya
kamu. Tidak perlu basa-basi, aku bisa sendiri. Dan, kamu pasti tak sadar, aku
berbohong jika aku bisa begitu mudah melupakanmu.
Menjauhlah. Aku
ingin dekat-dekat dengan kesepian saja, di sana lukaku terobati, di sana tak
kutemui orang sepertimu, yang berganti-ganti topeng dengan mudahnya, yang
berkata sayang dengan gampangnya.
dari seseorang yang kehabisan cara
membuktikan rasa cintanya
Satu - Satunya :)
“Aku hanya memiliki dia.” ucap Pengkhianat santai. “Dia
satu-satunya yang kupunya.”
Cinta terdiam dan sesekali menghela napas. “Perempuan jalang!”
“Apa salahku?” keluh Pengkhianat dengan wajah tak berdosa.
“Kamu menyakitinya tolol!” Cinta membentak dengan kasar, ia tak mampu lagi
menahan emosinya.
“Aku menyakitinya?” ulang Pengkhianat dengan wajah seakan-akan tak melakukan
kesalahan. “Dia masih milikku kan?”
“Hatinya memang milikmu, tapi bukan berarti kaubebas mematahkannya!”
Pengkhianat menatap dengan tatapan tajam, semakin tajam seperti menusuk Cinta
dengan ribuan pedang. “Memangnya kamu siapa? Pahlawannya?”
Ucapan itu terasa sangat menghujam, Cinta menutup mulutnya rapat-rapat. Ia
berpikir keras tentang jati dirinya yang belum juga terjawab. Cinta itu siapa?
Mengapa dia begitu tak tega jika Jujur disakiti oleh Pengkhianat. Cinta
berpikir keras, semakin keras hingga keringatnya mengucur deras.
“Aku bukan siapa-siapa.” desah Cinta lembut, seperti ada tangis yang terdengar
menyayat dalam ucapannya.
“Sudah tahu bukan siapa-siapa kenapa masih bersikap sok pahlawan?” Pengkhianat
bertolak pinggang, ia menaikkan alisnya. “Aku wanita jalang, tapi kamu wanita
bodoh!”
Cinta tak berani menatap wajah Pengkhianat, ia seakan-akan mati rasa dan tak
tahu lagi harus mengeluarkan kata-kata apalagi. Kosakata di kepalanya
seakan-akan terhapus dan terbawa lari ke dunia antah berantah yang tak mampu
Cinta capai. Cinta masih bergumul dengan perasaannya dan berharap rasa
keterpurukan itu tak semakin menghantuinya.
“Kamu memang pernah menjadi segalanya bagi Jujur, tapi kamu tak berhak
menyakiti dia lebih lama lagi!”
“Aku menyakitinya?” suara Pengkhianat terdengar licik disertai dengan tawa
sinis. “Aku hanya ingin merasakan pelukan hangat beberapa pria dan merasakan
bibir manis pria-pria lainnya. Apa aku salah?”
“Jangan jadikan dia korban! Dia sangat mencintaimu!”
“Berarti aku hebat?”
Tangan Cinta mengepal kuat, rasanya ia ingin melayangkan tinju bertubi-tubi ke
wajah yang membuat dirinya naik pitam. Ia masih berusaha menahan emosinya, dan
sesekali melirik ke arah Jujur. Pria itu terlihat lemah dan tak berdaya,
wajahnya yang pucat mengintip sesekali dari balik jendela. Cinta begitu berjarak
dengan Jujur, namun ia masih bisa merasakan apa yang dirasakan oleh jujur.
Wanita ini, Cinta, tahu kalau Jujur sedang kebingungan setengah mati.
“Kamu selalu hebat wanita jalang!” seru Cinta dengan desis yang lirih namun
menghujam. “Tapi, kali ini kamu tidak akan kubiarkan menang!”
“Tidak akan menang?!”
Cinta menangguk pelan.
“Kamu hanya dibodohi pria itu! Jujur tak pernah mencintaimu!”
“Tidak masalah buatku.”
“Tidak masalah?”
“Asal dia bahagia. Cukup.”
“Omong kosong!”
“Aku tidak pernah bohong, Jujur memang selalu mencintaimu dan ia sangat sulit
melupakanmu.”
Pengkhianat tertawa pelan. “Sekali lagi... aku menang!”
“Kamu belum tentu menang.” Cinta mengujar dengan pasti. “Waktu bisa mengubah
banyak hal yang tak kautahu!”
“Aku masih segalanya bagi Jujur! Kamu hanyalah persinggahan baginya! Pelarian!
Haha!”
“Kamu boleh tertawa di awal, tapi jangan salahkan aku kalau air matamu terjatuh
di akhir!”
Setiap frasa yang terucap dari bibir Cinta terdengar menohok. Kalimat itu
membuat Pengkhianat terdiam, ia mencerna setiap kata yang Cinta ucapkan.
“Tidak perlu kausumpahi, Cinta.” tanggap Pengkhianat terdengar enteng. “Aku
memang akan selalu tertawa!”
“Aku tahu sebenarnya kautidak bahagia. Kamu tertawa di atas tangis orang lain,
kebahagiaan semu!”
Tawa Pengkhianat berubah menjadi wajah yang masam. “Kamu tidak akan bahagia
bersamanya, Cinta. Percayalah. Jujur hanya mencintai aku. Akulah yang selalu
ada di pikiran Jujur.”
“Untuk saat ini kaumemegang kendali hatinya, tapi untuk saat-saat berikutnya ia
akan sadar dan membuka matanya, kaubukan siapa-siapa lagi, wanita jalang!”
“Kamu benar-benar mencintainya?”
Nada tanya yang tiba-tiba menyambar cinta itu langsung mendiamkan pita suara
Cinta. Ia bergumam dalam-dalam di hatinya.
“Aku benar-benar mencintainya.”
“Jika dia tak mencintaimu?”
Tanpa pikir panjang, cinta bergumam. “Untuk alasan apapun, aku tetap
mencintainya.”
“Jika dia tak akan pernah mencintamu?”
“Bagiku, melihat senyumnya sudah cukup.”
“Cukupkah?’
Cinta mengangguk, ia kembali menatap Jujur dengan tatapan penuh arti. Jujur
menangkap sinar mata Cinta, dan tatapan itu membuka mata Jujur semakin lebar.
Sudah beberapa menit Cinta berdebat dengan Pengkhianat, ia ingin semuanya
sampai pada klimaks. Botol minum yang ada di jemari kirinya masih ia remas
gemas, ia menatap mata Pengkhianat dengan tatapan sinis dan menyiramkan semua
isi botol itu di tubuh Pengkhianat.
“BUATMU!” tangan Cinta melibas wajah Pengkhianat dengan botol minum juga
sedikit tinju yang lumayan. Cinta mengelak kencang.
Langkah Cinta terasa ringan, ia menghampiri Jujur dengan wajah berseri-seri.
Tangannya mengetuk pintu dan Jujur segera berlari menghampiri Cinta.
Jujur segera memeluk Cinta lekat dan rapat. Ia mencium lembut kening Cinta.
“Jadilah masa depanku.”
- Dwitasari -
Langganan:
Postingan (Atom)