Jumat, 18 Januari 2013

R E A K S I



Seperti apa rupa harimu kini? Aku sungguh benar tak ingin peduli. Tak ingin tahu, dan untuk apa tahu? Tapi semakin aku tak peduli, semakin besar rasa peduli itu tersimpan. Bagaimana ini?
Lelaki itu menghela napas dalam diamnya. Alunan musik dari laptopnya masih berdenyar, memecah telinga. Suara Anggun. Yang entah apa judulnya karena ia tak pernah ingin menyempatkan untuk sekedar ingat judul lagu. Pikirannya semrawut antara melihat huruf-huruf di keyboard laptopnya, menyusun kata-kata yang ingin dituliskan, juga mencerna makna lagu yang juga entah apa maknanya. Ia berhenti sebentar. Lagi-lagu menghela nafas. Membayangkan sesuatu yang seperti labirin. Gua tanpa ujung.
Siang makin jelang. Suara kendaraan di jalanan masih bergemuruh, bersaing dengan suara klakson dan deru yang tak pernah sebentar pun berhenti riuh. Ia masih memaksakan diri menatap layar laptopnya, menuliskan beberapa kata di layarnya, dan entahlah. Pikirannya buntu sendiri. 
Aku tak pernah ingin menyakiti siapapun, tapi ini sudah kuputuskan. Lantas bagaimana harus kuutarakan semua jawaban keresahan ini?
Ia mengambil handphonenya dan mendapati bahwa WA-nya sudah menerima pesan baru sejak tadi. Kabar bahagia. Salah seorang rekan kerjanya resmi mengumumkan tanggal pernikahan. Alhamdulillah. Bertambah satu lagi yang akan menunaikan janji. Ia mengambil agendanya dan mulai menyusun list tanggal. Barangkali ia bisa hadir.
Payphone-Maroon five berbunyi dari smartphone-nya. Sebuah nama memanggil.
“Kamu dimana?”
“Di hatimu…”
“Eaaa. Seriusan nih. Aku mau ngajak kamu…”
“Kemana?”
“Ke hatiku…”
“Preet! Seriusan nih!”
“Hahaha. Makanya kalau ditanya bener-bener tuh jawabnya yang serius napa. Kamu ada waktu? Aku mau nyari buku. Otakku dah kempes nih kehilangan nutrisi.”
“Tumben. Makan aja padahal tuh wall facebook”
“Sampaaah. Hahaha. Sumpah aku udah stuck nih. I must read many book pokoknya! Yuk temenin!”
“Ogah. Lagi males keluar nih. Panas.”
“Alah. Sekalian lunch kali. Aku traktir. Oke-oke. Lima menit lagi aku jemput ke kantormu. Tapi kamu yang nanti bawa mobilku.”
Seketika hubungan telepon itu terputus. Selalu begitu.
Dia terdiam. Tetapi perlahan, sebuah senyum mulai mencuat di bibirnya.
***
“Muahaha… Itu episode terlucu yang aku tonton. Gila yaa, ada gitu episode hancur kek gitu. Ngakak banget gue!”
Seporsi besar ayam bakar ada di hadapannya. Lengkap dengan teh botol yang namanya sudah terkenal seantero nusantara. 
“Running man emang gitu. Untung aku udah lama nontonnya.”
“Makasih ya. Ada yang terbaru lagi gak?”
“Belum. Temen belum download. Entar kalau udah aku kasih tau.”
Suapan demi suapan kembali mengheningkan suasana. Lelaki itu mulai memikirkan kesempatan yang bagus untuk mengatakan keresahannya. Sayangnya, ia kalah cepat. Perempuan itu yang kembali menguasai pembicaraan.
“Jadi kamu beli buku tadi?”
“The hobbits? Ya. Butuh refresh dengan sesuatu yang bersifat religi.” Ia menjawab datar. Matanya memandang ke kejauhan.
“Meuh.. sejak kapan?”
“Berhenti dari rutinitas untuk sesaat. Kamu jadinya beli novel yang tadi?”
Dia menganggukan kepala. Mulutnya sibuk mencecap dan mengunyah.
“Aku baca reviewnya di good reads. Ya, meski edisi revisi, katanya novel ini keren. Bahasanya puitis. Belum lagi pembahasannya yang super brilian. Tentang TKW dong. Sempet juga sih baca beberapa karya kayak gitu. Tapi seriusan ni bikin penasaran.” 
“Kalo sudah, aku pinjem, ya?”
“Wani pirooo?”
Sebuah tisue terlempar asal. Lantas suara tawa memecah.
Lelaki itu tersenyum saja. Sosok di hadapannya tak menyadari betapa mahalnya tawa untuk kondisi saat ini. Tapi biarlah. Barangkali ini memang belum saatnya. Ia akan tahu sendiri. Dan entah bagaimana reaksinya nanti.
***
Kamu tahu, aku takut. Takut katakan ini padamu. Bahwa momen siang tadi, barangkali yang terakhir kalinya kita bersama. Aku takut reaksimu. Tak bisa bayangkan bagaimana kecewamu. Bulan depan, aku pulang. Memenuhi permintaan orang tua, menggenapi separuh agama yang tersisa. 
Maafkan….

(waaa… sudah sekian lama gak nulis cerpen, ternyata begini hasilnya…)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar