Sabtu, 19 Januari 2013


Seharusnya aku berkata begini: Yeah, i am excited about everything today.Tapi hati sedang tak bisa dibohongi. Aku hanya akan berkata: aku baik-baik saja. Kau tak perlu cemas. Terkadang, aku butuh sendiri untuk mengetahui sejauh apa aku berani (´•_•`)

“Kalau ada yg menghina Anda, anggap saja sebagai sebuah pujian bahwa dia berjam-jam memikirkan anda, sedangkan anda tidak sedetik pun memikirkan dia”

Jumat, 18 Januari 2013

Apa itu semuanya? tentang kita ..


Apa itu semuanya yang pernah kita alami? aku belajar dari semua pertanyaan-pertanyaan perasaanku, lalu aku jawab dan itu semua tentang kita, kita, dan kita yang berisikan aku dan kamu yang jauh di sana. Semoga kamu yang di sana mengerti. 

Apa itu kommitmen? yang sekarang terlupakan dengan kesibukkanmu, yaa mungkin kamu enggak sadar tapi aku merasakannya.

Apa itu kepercayaan? yang sekarang tergerus dengan keegoisan dan kecemburuanmu, apa nyaman ketika menjalani hubungan dengan seseorang yang kita sayangi tapi selalu diisi dengan selalu kamu dan perasaan negative thinking-nya kamu, apa nyaman?

Apa itu komunikasi? yang sekarang kamu terlihat menghindari dan mencari alasan untuk tidak melakukannya, aku mungkin resah dengan kita yang sekarang, saling sibuk lalu melupakan kita sebagai apa dan siapa.

Apa itu kedewasaan? yang sekarang kamu malah sering ngambek dan mencari masalah yang itu-itu saja, dan keresahan itu ada berawal dari komunikasi yang berkurang dan muncul siapa yang akan memulai untuk 'ngambek' dan menjadikannya sebagai masalah yang 'ini-ini-lagi', entahlah.

Apa itu jenuh? setidaknya aku pernah bicara ke kamu "kapan kita ketemuan" lalu kamu abaikan, hal ini sering terjadi pada kita saat membicarakan kapan pertemuan itu akan ada lagi, tapi yang ada malah janji, janji, dan janji. Seperti harapan palsu yang berujung kekecewaan, semoga kamu sadar setelah membaca beberapa kalimat tadi. Semoga!

Apa itu nyaman? kamu tau kan dulu aku pernah nyaman sama kamu, dan sekarang malah terkikis hingga aku sendiri yang terus mencari sosok kamu yang dulu pada akhirnya aku menemukannya pada sosok yang lain, mungkin ini inti dari kekecewaan yang pernah ada.

Apa itu pertemuan? sesuatu yang kita idam-idamkan dari kemarin-kemarin, hal yang lama sekali saat kita saling menunggu. ah, jadi semakin gak sabar buat ketemuan nanti, semoga ketemuan selanjutnyta bukan PHP yaa. Hmm.. Aku jadi ingat saat pertama ketemu kamu, dan itu akan terjadi saat pertemuan selanjutnya; Perasaan deg-degan itu selalu ada, rasa khawatir terhadap perubahan raut wajahmu, tubuhmu, dan kulit. Ah cepet ketemuan ya sayang.

Apa itu khawatir? Kamu tau bagaimana aku tetap mencintaimu, ya di situlah aku tetap mengkhawatirkanmu, jangan diabaikan nanti kalau diabaikan lalu aku bosan mengkhawatirkanmu, dan kamu menyesal. 

Apa itu pelukan? ah, aku jadi semakin kangen sama kamu.

Apa itu teman hidup? Dan Semoga kamu. Amiin

Satu Pesan Singkat





              Satu pesan singkat saja dari beberapa jam kesibukanmu, mungkin aku bisa mengalah karena kau 
             telah mengabariku sebelumnya.
Satu pesan singkat mungkin bisa menghindari kita dari kesalagpahaman karena kesibukan kita masing-masing.  
Satu pesan mungkin akan meredamkan egoku terhadapmu, apa kau terlalu sulit untuk merelakan beberapa menit untuk mengirim pesan?
Satu pesan saja bisa menghilangkan berjuta keresahan, kekhawatiran, dan fikiran negatif terhadapmu di sana.
Satu pesan singkat saja bisa menenangkan diriku yang sudah terjajah oleh kerinduan ini.
Satu pesan singkat bisa membuat aku tak curiga dengan apa yang kamu lakukan di sana.
Satu pesan singkat bisa membuatku yakin kalau kau baik-baik saja di sana.  

Cc : @LongDistance_R

Mana Mungkin Aku Setia… (B.J. Habibie for Ainun Habibie)



Sebenarnya ini bukan tentang kematianmu, bukan itu.

Karena, aku tahu bahwa semua yang ada pasti menjadi tiada pada akhirnya,

dan kematian adalah sesuatu yang pasti,

dan kali ini adalah giliranmu untuk pergi, aku sangat tahu itu.

Tapi yang membuatku tersentak sedemikian hebat, adalah kenyataan

bahwa kematian benar-benar dapat memutuskan kebahagiaan dalam diri seseorang,

sekejap saja, lalu rasanya mampu membuatku menjadi nelangsa setengah mati,

hatiku seperti tak di tempatnya, dan tubuhku serasa kosong melompong, hilang isi.

Kau tahu sayang, rasanya seperti angin yang tiba-tiba hilang berganti kemarau gersang.

Pada airmata yang jatuh kali ini, aku selipkan salam perpisahan panjang,

pada kesetiaan yang telah kau ukir, pada kenangan pahit manis selama kau ada.

“Aku bukan hendak megeluh, tapi rasanya terlalu sebentar kau disini.”

Mereka mengira aku lah kekasih yang baik bagimu sayang,

tanpa mereka sadari, bahwa kaulah yang menjadikan aku kekasih yang baik.

Mana mungkin aku setia padahal memang kecenderunganku adalah mendua,

tapi kau ajarkan aku kesetiaan, sehingga aku setia, kau ajarkan aku arti cinta,

sehingga aku mampu mencintaimu seperti ini.

Selamat jalan, Kau dari-Nya, dan kembali pada-Nya,

kau dulu tiada untukku, dan sekarang kembali tiada.

Selamat jalan sayang, cahaya mataku, penyejuk jiwaku,

Perkara dikhianati dan memaafkan


Yang namanya dikhianatin itu enggak ada enaknya, apa lagi saat orang yang kita sayang sedang berada jauh di sana, kita enggak tau apa yang dia lakuin di sana, hanya bermodal kepercayaan dan keyakinan yang intinya kita percaya dan yakin kalau dia di sana enggak bakal selingkuh. Ada beberapa perasaan yang bakal kita lakuin kalau kita sampai dikhianati, dan ini ada beberapa contoh kasus yang sering kita alami sendiri dan kita lihat di sekitar kita.

Apa yang kita lakukan saat kita dikhianati? | Pertama, ya harus menguatkan diri dulu dari apa yang telah terjadi, terutama kekecewaan. Kita yang dulu mencintai dia dan sekarang yang didapatkan adalah luka, luka, hanya luka yang memebekas. Sakit.

Apa enak, saat kita dikecewain? | enggak enak lah, gak ada enaknya. Saat kita dikecewakan dengan seseorang, kita gak perlu melampiaskan rasa sakit hati kita dengan seseorang yang tentunya orang itu tidak tahu ‘kenapa kita’, yang perlu kita lakukan bagaimana menguatkan diri dari rasa sakit sendirian.

Kalau kita sudah kuat hati dari adanya kekecewaan, baru kita bisa mendengar penjelasan dia kenapa dia bisa berkhianat. Kalau dia sudah jelasin, secara detail dengan tulus hati kenapa dia bisa berkhianat. lalu kembali ke kitanya lagi, Sanggup tidak menerima orang yang sudah mengkhianati cinta kita, dan kalau masih trauma mending jangan, ini bukan menerima hati yang pernah melukain, ini masalah trauma.

Kalau kita sudah dikhianati lalu kita tetap percaya, percaya kalau dia tidak akan mengulangi kesalahan dan tidak mengkhianati kita lagi. Percaya aja enggak cukup, karena yang namanya trauma itu akan tetap ada dan selalu ada,  Trauma itu tentang daya ingat; perpaduan antara hati dan fikirian, yang didalamnya terdapat masa lalu yang kelam dan itu tidak bisa dilupakan oleh kita. Memangnya bisa melupakan orang yang pernah melukaimu, saat orang itu sedang kita sayang?

***

Kenapa orang yang sudah dikhianati lebih ingin memilih dalam kondisi ‘ biarin aku sendiri dulu’? karena mereka ingin menguatkan hati dalam waktu yang tidak sebentar, mungkin beberapa hari. Menguatkan hati itu butuh waktu, Hati itu bukan barang mainan yang bisa mudah saja menerima dan merusaknya dalam artian memaafkan lalu menerima(kembali). Perkara memaafkan memang mudah, tapi emang bisa melupakan apa yang telah terjadi sebelum memaafkan, termasuk pengkhianatan?

Karena melupakan apa yang telah menyakiti hati kita tidaklah mudah saat kita memaafkan orang yang telah menyakiti kita. Ada beberapa orang yang kecewa dengan sendirinya karena terlalu berharap dengan bualan hatinya sendiri terhadap cintanya. Memaafkan itu memang indah, akan lebih indah lagi jika kita tidak ada kata saling memaafkan karena hal yang menyakitkan. Seindah-indahnya memaafkan, apa masih ada kata indah saat kita selalu teringat dgn luka setelah kita memaafkan? tidak.

Memaafkan bukan berarti melupakan hal yang pernah menyakiti. Bukan perkara kata 'ikhlas' saat memaafkan, untuk apa ada janji setelah itu ada pengkhianatan. Kalau tidak usah berjanji lalu dari mana datangnya keyakinan dan kepercayaan terhadap dia, saat kita menerima cintanya?

Dia yang berjanji lalu kamu yang percaya, dia mengkhianati lalu kamu masih tetap percaya? memaafkan? sedikit bodoh.
Lalu dia mati-matian membuatmu percaya lagi, saat dia sudah mendapatkanya, dia asik memainkannya kembali. Ternyata dia yang paling bodoh.

Pada akhirnya karena kebodohan awal dari bualan-bualan cinta, terlalu berharap dengan yang tidak-tidak, yang seharusnya itu memang tidak terjadi, karena terlalu berharap dan harapan itu jauh dari kenyataan, kecewalah kita.

Cinta itu seharusnya rasional. jangan membuat dia kecewa, karena untuk apa berjanji kalau pada akhirnya menyakitinya.

Cc : @Longdistance_R

R E A K S I



Seperti apa rupa harimu kini? Aku sungguh benar tak ingin peduli. Tak ingin tahu, dan untuk apa tahu? Tapi semakin aku tak peduli, semakin besar rasa peduli itu tersimpan. Bagaimana ini?
Lelaki itu menghela napas dalam diamnya. Alunan musik dari laptopnya masih berdenyar, memecah telinga. Suara Anggun. Yang entah apa judulnya karena ia tak pernah ingin menyempatkan untuk sekedar ingat judul lagu. Pikirannya semrawut antara melihat huruf-huruf di keyboard laptopnya, menyusun kata-kata yang ingin dituliskan, juga mencerna makna lagu yang juga entah apa maknanya. Ia berhenti sebentar. Lagi-lagu menghela nafas. Membayangkan sesuatu yang seperti labirin. Gua tanpa ujung.
Siang makin jelang. Suara kendaraan di jalanan masih bergemuruh, bersaing dengan suara klakson dan deru yang tak pernah sebentar pun berhenti riuh. Ia masih memaksakan diri menatap layar laptopnya, menuliskan beberapa kata di layarnya, dan entahlah. Pikirannya buntu sendiri. 
Aku tak pernah ingin menyakiti siapapun, tapi ini sudah kuputuskan. Lantas bagaimana harus kuutarakan semua jawaban keresahan ini?
Ia mengambil handphonenya dan mendapati bahwa WA-nya sudah menerima pesan baru sejak tadi. Kabar bahagia. Salah seorang rekan kerjanya resmi mengumumkan tanggal pernikahan. Alhamdulillah. Bertambah satu lagi yang akan menunaikan janji. Ia mengambil agendanya dan mulai menyusun list tanggal. Barangkali ia bisa hadir.
Payphone-Maroon five berbunyi dari smartphone-nya. Sebuah nama memanggil.
“Kamu dimana?”
“Di hatimu…”
“Eaaa. Seriusan nih. Aku mau ngajak kamu…”
“Kemana?”
“Ke hatiku…”
“Preet! Seriusan nih!”
“Hahaha. Makanya kalau ditanya bener-bener tuh jawabnya yang serius napa. Kamu ada waktu? Aku mau nyari buku. Otakku dah kempes nih kehilangan nutrisi.”
“Tumben. Makan aja padahal tuh wall facebook”
“Sampaaah. Hahaha. Sumpah aku udah stuck nih. I must read many book pokoknya! Yuk temenin!”
“Ogah. Lagi males keluar nih. Panas.”
“Alah. Sekalian lunch kali. Aku traktir. Oke-oke. Lima menit lagi aku jemput ke kantormu. Tapi kamu yang nanti bawa mobilku.”
Seketika hubungan telepon itu terputus. Selalu begitu.
Dia terdiam. Tetapi perlahan, sebuah senyum mulai mencuat di bibirnya.
***
“Muahaha… Itu episode terlucu yang aku tonton. Gila yaa, ada gitu episode hancur kek gitu. Ngakak banget gue!”
Seporsi besar ayam bakar ada di hadapannya. Lengkap dengan teh botol yang namanya sudah terkenal seantero nusantara. 
“Running man emang gitu. Untung aku udah lama nontonnya.”
“Makasih ya. Ada yang terbaru lagi gak?”
“Belum. Temen belum download. Entar kalau udah aku kasih tau.”
Suapan demi suapan kembali mengheningkan suasana. Lelaki itu mulai memikirkan kesempatan yang bagus untuk mengatakan keresahannya. Sayangnya, ia kalah cepat. Perempuan itu yang kembali menguasai pembicaraan.
“Jadi kamu beli buku tadi?”
“The hobbits? Ya. Butuh refresh dengan sesuatu yang bersifat religi.” Ia menjawab datar. Matanya memandang ke kejauhan.
“Meuh.. sejak kapan?”
“Berhenti dari rutinitas untuk sesaat. Kamu jadinya beli novel yang tadi?”
Dia menganggukan kepala. Mulutnya sibuk mencecap dan mengunyah.
“Aku baca reviewnya di good reads. Ya, meski edisi revisi, katanya novel ini keren. Bahasanya puitis. Belum lagi pembahasannya yang super brilian. Tentang TKW dong. Sempet juga sih baca beberapa karya kayak gitu. Tapi seriusan ni bikin penasaran.” 
“Kalo sudah, aku pinjem, ya?”
“Wani pirooo?”
Sebuah tisue terlempar asal. Lantas suara tawa memecah.
Lelaki itu tersenyum saja. Sosok di hadapannya tak menyadari betapa mahalnya tawa untuk kondisi saat ini. Tapi biarlah. Barangkali ini memang belum saatnya. Ia akan tahu sendiri. Dan entah bagaimana reaksinya nanti.
***
Kamu tahu, aku takut. Takut katakan ini padamu. Bahwa momen siang tadi, barangkali yang terakhir kalinya kita bersama. Aku takut reaksimu. Tak bisa bayangkan bagaimana kecewamu. Bulan depan, aku pulang. Memenuhi permintaan orang tua, menggenapi separuh agama yang tersisa. 
Maafkan….

(waaa… sudah sekian lama gak nulis cerpen, ternyata begini hasilnya…)
Di keheningan, aku melabuhkan diri di pintu keharibaan-Mu..




HUJAN BULAN JUNI
Tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan juni dirahasiakannya rintik rindunya kepada pohon berbunga itu
Tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan juni dihapusnya jejak-jejak kakinya yang ragu-ragu di jalan itu
Tak ada yang lebih arif dari hujan bulan juni dibiarkannya yang tak terucapkan diserap akar pohon bunga itu.
Sapardji Djoko Darmono - 1989

Kamis, 17 Januari 2013


Jika dia tetap membawa namamu dalam doa , meskipun tahu kau tak mendoakannya, masihkah kau ingin mengabaikan perasaannya?
Dan,  jika dia tak pernah lelah menunggumu, masihkah kau menganggap perasaannya sebagai mainan ?

UNO


Janji kita, siapa pun yang kalah dalam permainan ini, ia harus mencium sang pemenang di tempat yang diinginkan sesuka hatinya. Setelah menimbang sejenak, bibirku melengkungkan senyum.

"Oke, Deal!" kataku kepadamu dari ujung ranjang.

Aku mengambil tumpukan kartu yang berserak di tengah kita, memulai gerakan mengocok kartu, lalu membaginya sama rata sesuai aturan konvensional yang berlaku di seluruh dunia: tujuh kartu untukmu dan tujuh kartu untukku.

Aku mengangkat kartu-kartu yang menjadi bagianku lalu membariskannya di antara jari-jemariku sebelum kulihat semua isinya. Kau menaikkan salah satu sudut bibirmu ke atas setelah melihat kartu-kartu milikmu sendiri berjejer di antara jari-jarimu, senyum nakal yang selalu kaubuat jika berhasil membuatku berteriak mengaduh manja terhadapmu. Dasar nakal! Umpatku dalam hati.

"Kartunya bagus, makasih kocokannya, ya!?" katamu sambil menganggukkan kepalamu sekali ke arahku, "Punya kamu bagus, nggak?"

Aku mengecutkan bibirku sambil menggeleng. Kau tertawa cekikan setelahnya.
Kau mengambil satu buah kartu di tengah-tengah kita sebagai kartu penunjuk, kartu paling atas yang kau ambil. Kartunya bernomor 6 warna kuning. Kemudian kau meletakkan kartu berwarna kuning bergambar sebuah lingkaran dengan garis miring di tengahnya. Lambang stop. Aku mengangkat bahu, "Jalan lagi," kataku.

Kau tersenyum semakin nakal setelah melihatku mulai tidak senang pada permainan ini. Hei, ini masih awal dan kau mulai menyebalkan! Teriakku dalam hati.

"Oh iya, pasti, dong!" katamu sambil menjatuhkan kartu berwarna kuning dan bergambar dua buah panah yang saling menunjuk. Lambang reverse. Putar balik.

Aku menggigit bibirku, menyipitkan mata, dan melihat wajahmu yang tersenyum lebih dari sekadar nakal. Aku menggelengkan kepalaku sekali. Permainan ini mulai menguji kesabaranku. Tapi, bukannya aku harus senang karena siapa yang kalah harus mencium yang menang. Bermain cinta setelah bermain kartu? Hmm... lakukan!

"Jalan... lagi..." kataku pelan-pelan.

Kau tidak bersuara. Kau menjatuhkan sebuah kartu berwarna hitam dengan mantap ke atas tiga lembar kartu yang berserakan di tengah kita. Kartu berwarna hitam dengan tanda +4 di pinggir kanannya. Aku hanya termangu lalu melihat wajahnya. Aku mengangkat kedua alisku padamu.

"Ya ambil, lah..." katamu sambil menganggukkan kepala dengan wajah menyebalkan.

Aku menggeleng berkali-kali lalu mengambil empat lembar kartu sambil mendenguskan napas. Tahukah kau bahwa permainan ini mulai menyebalkan? Menyebalkan yang menyenangkan karena ada kau sebagai lawanku di sini. Menyenangkan karena dengan adanya kau di sini aku tidak lagi punya alasan untuk merasa kesepian. Ini menyebalkan yang paling menyenangkan! Kau harus tahu itu, Sayang. 

Kartumu tinggal tersisa empat, sedangkan kartuku beranak pinak menjadi sebelas lembar yang kini berjejer rapi di jari-jemariku.

*** 

"Uno games!" teriakmu ketika kartumu telah habis dari genggaman, sedangkan aku, kartuku masih lengkap: sebelas lembar dalam genggaman. Bahkan kau tidak mengizinkanku untuk mengurangi satu lembar kartu pun dari tanganku.

Bermain UNO berarti bermain dengan kesempatan, katamu. Jika ingin menang dalam permainan ini, kita harus pintar-pintar menggunakan kesempatan, katamu lagi. Sekarang aku jadi mengerti, bagaimana aku bisa memenangkan permainan ini jika kau tidak memberikan padaku satu kali saja kesempatan.

Tapi tidak apa-apa, kupikir selagi hukumannya adalah menciummu, tidak apa-apa aku tidak mempunyai kesempatan untuk mengalahkanmu dalam permainan ini. Toh, aku masih memiliki kesempatan untuk menciummu, untuk mencintaimu. Aku membuang sebelas kartuku di tengah-tengah kita, lalu aku tersenyum sambil merangkak menuju tubuhmu. Kau tersenyum lebih nakal dari sebelumnya dan itu membuatku semakin cepat ingin menciummu. Lalu aku berhasil mencapai keningmu.

Aku berhenti bergerak ketika bibirku berada di puncak kepalamu. Rasanya dingin, sepi, getir. Lalu badanku bergetar, kepalamu mulai basah dengan air mata yang jatuh dari mataku. Kau kaku, lalu pelan. Menghilang. Aku mencoba memelukmu, tapi kau tidak ada lagi. Yang tersisa hanya serakan kartu-kartu di depanku. Badanku semakin bergetar, tangisku mulai meriak sementara kau benar-benar tidak ada lagi di depanku. Kuacak tumpukan kartu dengan kedua kakiku sehingga beberapa lembarnya terkoyak. Tubuhmu benar-benar lenyap dari pandanganku dan luka hatiku semakin menganga. Malam mulai beranjak tua tapi aku masih duduk di tepian ranjang sambil menangis.

Sayang, bahkan kau tidak memberikan kesempatan padaku bahwa kaulah satu-satunya. Lebih lagi, kau tidak memberiku kesempatan bahwa aku ada. Bahkan untuk menunjukkan padamu bahwa aku mampu menjadi yang terbaik. Untuk mencintaimu.
Lagi-lagi aku bermain UNO sendirian. Bersama bayanganmu. Dan juga tembok di depanku. Ibuku hanya mampu melihat dari depan kamar rumah sakit yang kini kutempati. Aku tidak mengerti mengapa beliau selalu menangis ketika melihatku menangis. Lebih lagi, aku tidak tahu kenapa aku ditempatkan dalam kamar isolasi ini.

Jumat, 04 Januari 2013



Bagaimana jika pada akhirnya yang kupilih bukan kamu, tapi dia?
Bagaimana jika pada akhirnya yang kupinta untuk melengkapiku bukan kamu, tapi dia?
Bagaimana jika pada akhirnya kita saling melepaskan tanpa banyak penjelasan? 
Aku pergi, punggungmu menjauh, tak banyak kata, tapi hati kita tahu bahwa semua sudah selesai. Usai.
Bagaimana jika pada akhirnya aku dan kamu kembali menjadi diri sendiri, tanpa sempat mendefisikan kata “kita” menjadi nyata? Aku menundukan mukaku. Kamu menghapus sisa hujan di matamu. 

Maafkan aku. Ternyata beginilah kemungkinan yang memungkinkan. Kita berandai pada keputusan sulit yang sedang kita pelajari jawabannya pada hati sendiri. Anggap ini terapi. Belajarlah untuk menerima, juga meyakini. Akan ada selalu yang terbaik untuk setiap perjalanan, baik jiwa ataupun rasa…
Biarlah pahitnya masa lalu itu kulupakan, namun aku sama sekali tidak ingin melupakan pelajaran dan hikmah dari masa laluku.. Karena aku manusia, bukan keledai yang katanya jatuh pada lubang yang sama…
Dulu, hal-hal tersebut memang cukup manis. Sekarang hatiku rasanya menawar.
Pengakuan : aku bosan. Aku jenuh.
“Janganlah terlalu bersedih atas masa lalu yang pernah terjadi pada dirimu cobalah menutup rapat-rapat dan mengikat masa lalumu dengan KEIKHLASAN. Yang pergi biarlah pergi dan jangan kau ungkit kembali yang hanya akan membuatmu putus asa”

Catatan Kecil Dari Hati #Part II

“Kamu masih mencarinya?”
“Siapa?”
“Pencuri rusukmu.”
“Oh… Tidak.”
“Jadi?”
“Aku selesai.”
“Kamu berhenti mencari?”
“Aku menunggu saja. Menunggu ia tiba. Menantikan ia datang dengan semangat perubahan. Aku tak pasif tentu saja. Hanya menyadari. Awal dari segala hal adalah doa. Tombaknya usaha. Kulepaskan ia dalam perbaikan menuju cinta-Nya.”
“Kenapa?”
“Ibarat mobil, aku membiarkan kemudi di tangan yang tepat. Aku tak bisa memaksakan siapa pun harus segera menjalankannya. Ia mestilah punya keinginan untuk menjalankannya. Ia pun mestilah memiliki syarat yang cukup untuk menjadi sopir yang baik. Minimal dia lulus uji. Punya SIM. Fokus ke depan. Bukan melulu ke masa lalu yang bisa ia lihat sesekali lewat kaca spion..”
“Hmm… Sudahkah kamu temukan yang seperti itu?”
“Kita seringkali jatuh hati pada orang-orang yang senantiasa berbuat kebaikan. Semoga jika pun aku nanti jatuh hati, dia kelak akan menjadi pengemudi yang baik, yang bisa menjagaku dan keluarga kami kelak dari api neraka, yang tak sekadar selamat di perjalanan menuju terminal, tapi juga hingga kelak ke tempat paling abadi.”
“Aamiin… Dan semoga orang itu aku..”
“Kamu?”
“Kamu tahu itu…”

Catatan Kecil Dari Hati

Standing there, watching you.
Dulu, aku tidak menyangka aku akan sejauh ini denganmu.
Dulu, aku tidak menyangka kamu akan sedekat ini dengan mereka.
Dulu, aku tidak menyangka bagaimana waktu memisahkan kita.
Dulu, aku tidak percaya waktu akan mengubah kita.
Kamu yang sekarang, jelas bukan kamu yang dulu.
(…kamu yang lucu, bersahabat, sopan, dekat denganku…)
Dan aku yang sekarang, mungkin saja bukan aku yang dulu.
I’m still standing there, watching you. Remembering you. Dengan senyuman tipis di bibirku, aku melangkah pergi dan menyeka air mataku.