Jumat, 24 Agustus 2012

(⌣_⌣..) (⌣́_⌣̀") (⌣́_⌣̀)


Tuhanku yang amat aku cintai,
lihatlah wajahku yang letih ini ...

yang telah berupaya menuruti tuntunanMu
untuk bekerja keras dalam kejujuran,
untuk kebaikan hidupku dan kebahagiaan keluargaku,
tapi ...

yang belum dihargai dengan baik oleh sesamaku ...

Aku yang dicari saat aku tak ada,
tapi yang diabaikan saat aku ada,
yang diperintah tanpa mengukur kekuatanku,
yang dimarahi tanpa perduli hatiku pun bisa sakit,
yang disebut namaku hanya dalam kemarahan,
yang dihargai seperti aku lebih murah dari perabot rumah mereka.

Tapi itu semua bukan salahMu.

Ini pasti karena aku belum cukup memampukan diriku.

Besok, aku akan mencoba lebih berani lagi,
berupaya lebih bertenaga lagi,
dan bertahan lebih sabar lagi.

Besok, aku akan memperpanjang setiap menitku
dengan doa dan kerja keras,
akan kuperindah setiap menitku dengan kesyukuran,
dan akan kujadikan setiap menitku bernilai,

karena aku khawatir waktuku akan habis
sebelum aku sepenuhnya mampu membahagiakan
ibu dan ayahku, kekasih hatiku, saudaraku,
dan mereka yang kucintai dan yang mencintaiku.

Tuhan ... biarkanlah aku menangis sebentar,
dan jika nanti aku terlelap dalam isakku,
lepaskanlah letih dari ototku,
bersihkanlah pikiranku dari bebannya,
usirlah momok dari hatiku,
dan haluskanlah jalan nafasku.

Tuhan, sayangilah aku, selamatkan dan
sejahterakankah kekasih kecilMu yang letih ini.

Aamiin (˘.˘)

Rabu, 08 Agustus 2012

hilang nyawaku


satu bulan penuh tanpa membuka blog ini rasanya... menusuk. saya tetap menulis, tetapi bukan menulis apa. ketika menulis biasanya mengisi jiwa, ini hanya sekedar alfabet. hanya rentetan kata yang jika diulang tiada makna. tulisan-tulisan yang ditulis tanpa apa. saya hilang apa, saya hilang nyawa. nyawa berarti arah bagi saya.
pendek kata : saya kehilangan arah.
nyawa saya tersesat entah dimana, ia hilang arah. mungkin dia lupa kalau dia punya rumah; hati saya. mungkin ia tengah bosan dengan kemunafikan hidup yang akhir-akhir ini ditujukan langsung, dikirim tanpa perantara untuknya. mungkin kini ia tengah duduk-duduk santai menikmati kopi pagi di hati yang lain. atau tengah berinteraksi dengan psikiater yang pastinya mampu mengendalikan segala pemikiran yang tidak diperlukan? entah. saya rindu dia; nyawa saya.
belakangan, saya menyadari bahwa aktivitas dapat membunuh anda secara perlahan; satu-satunya alasan yang sesungguhnya tidak beralasan karena saya memilih aktivitas ini secara sadar meski dibawah tekanan. banyak hal yang saya sukai, tetapi hanya menjadi sisipan semata, dimana saya sadar bahwa semua itu bisa menjadi nyawa cadangan. tetapi lenyap.
dan saat ini saya masih menjadi manusia tanpa nyawa. heran, apa ini berarti saya tengah menjadi zombie?
saya butuh nyawa saya. sekarang. mungkin anda punya? atau anda nyawa saya?

Selasa, 07 Agustus 2012

Mencoba menulis lagi :)


Lama tak menulis tampaknya membuat tangan saya gatal untuk kembali menuangkan sejumput pikiran yang terendap di kepala. Menulis bagi saya bukanlah sebuah kegiatan untuk sekedar menggoreskan pena di atas kertas putih ataupun menarikan sepuluh jemari di atas tuts keyboard. Bagi saya menulis layaknya seseorang yang sedang ‘berdoa dengan tangan tertelungkup’*. Di sana saya dapat berdoa, berharap, mengeluh, menangis, bahagia, bersyukur dan segala ekspresi lainnya yang terkadang tidak dapat dideskripsikan. Saya dapat menuangkan semua ekspresi tersebut melalui karakter-karakter yang saya bentuk sendiri dalam imajinasi yang jika disatukan mungkin akan mampu menggambarkan karakter pribadi sang penulis dan orang-orang yang ada di sekitar saya. Menulis bagi saya bukan soal sastra, bukan soal keindahan gaya bahasa, juga bukan soal titik koma. Tapi menulis adalah ungkapan jiwa, tak peduli seburuk apapun gaya bahasa kita ia tetaplah unik seunik nada getar suara kita.  Nyook nulis lagi nyook..

Akhir kata, mari kita kutip sebuah kata dari Umar bin Khatab: “Ajarilah anakmu sastra, agar ia menjadi pemberani”. Berhubung saya belum punya anak jadi harus nulis sendiri, entar kalo dah punya anak baru disuruh nulis dia.

* biasanya kita berdoa dengan tangan menengadah ke atas, namun saat kita menulis tangan kita menghadap ke bawah (telungkup) itulah mengapa penulis menggunakan ungkapan ‘berdoa dengan tangan tertelungkup’  [frasa ngarang sendiri]

[saya memutuskan (bukan ‘mencoba’) untuk terus menulis minimal 1 tulisan per pekan]