Rabu, 20 Maret 2013

lagi .. lagi ..Tentang Kita :")



Ini bukan yang pertama, duduk sendirian dan memerhatikan beberapa tulisan berlalu-lalang. Setiap abjad yang tersusun dalam kata terangkai menjadi kalimat, dan entah mengapa sosokmu selalu berada di sana, berdiam dalam tulisan yang sebenarnya enggan aku baca dan kudefinisikan lagi. Ini bukan yang baru bagiku, duduk berjam-jam tanpa merasakan hangatnya perhatianmu melalui pesan singkat. Kekosongan dan kehampaan sudah berganti-ganti wajah sejak tadi, namun aku tetap menunduk, mencoba tak memedulikan keadaan. Karena jika aku terlalu terbawa emosi, aku bisa mati iseng sendiri.

Tentu saja, kamu tak merasakan apa yang kurasakan, juga tak memiliki rindu yang tersimpan rapat-rapat. Aku sengaja menyembunyikan perasaan itu, agar kita tak lagi saling menganggu. Bukankah dengan berjauhan seperti ini, semua terasa jadi lebih berarti? Seakan-akan aku tak pernah peduli, seakan-akan aku tak mau tahu, seakan-akan aku tak miliki rasa perhatian. Bagiku, sudah cukup seperti ini, cukup aku dan kamu, tanpa kita.

Kali ini, aku tak akan menjelaskan tentang kesepian, atau bercerita tentang banyak hal yang mungkin saja sulit kau pahami. Karena aku sudah tahu, kamu sangat sulit diajak basa-basi, apalagi jika berbicara soal cinta mati. Aku yakin, kamu akan menutup telinga dan membesarkan volume lagu-lagu yang bernyanyi bahkan tanpa lirik yang tak bisa kau terjemahkan sendiri. Aku tidak akan tega membebanimu dengan cerita-cerita absurd yang selalu kau benci. Seperti dulu, saat aku bicara cinta, kau malah tertawa. Seperti saat kita masih bersama, aku berkata rindu, namun kau tulikan telinga.

Hanya cerita sederhana yang mungkin tak ingin kaudengar sebagai pengantar tidurmu. Kamu tak suka jika kuceritakan tentang air mata bukan? Bagaimana kalau kualihkan air mata menjadi senyum pura-pura? Tentu saja, kau tak akan melihatnya, sejauh yang kutahu; kamu tidak peka. Dan, mungkin saja sifat burukmu masih sama, walaupun kita sudah berpisah dan sudah lama tak saling bertatap mata.

Entah mengapa, akhir-akhir ini sepi sekali. Aku seperti berbisik dan mendengar suaraku sendiri. Namun, aku masih saja heran, dalam gelapnya malam ternyata ada banyak cerita yang sempat terlewatkan. Ini tentang kita. Ah... sekarang kamu pasti sedang membuang muka, tak ingin membuka luka lama. Aku pun juga begitu, tak ingin menyentuh bayang-bayangmu yang semakin samar-samar, tak ingin mereka-reka senyummu yang tidak lagi seindah dulu.

Kalau boleh aku jujur, kata "dulu" begitu akrab di otak, pikiran, dan telingaku. Seperti ada sesuatu yang terjadi, sangat dekat, sangat mendalam, sampai-sampai tak mampu terhapus begitu saja oleh angkuhnya waktu dan jarak. Sudah kesekian kali, aku diam-diam menyebut namamu dalam sepi, dan membiarkan kenangan terbang mengikuti gelitik manja angin; tertiup jauh namun mungkin akan kembali.

Wajah baruku bisa kaulihat sendiri, terlihat lebih baik dan lebih hangat daripada saat awal perpisahan kita. Bicara tentang perpisahan, benarkah kita memang telah berpisah? Benarkah kita sudah saling melupakan? Jika memang ada kata "saling", tapi mengapa hatiku masih ingin terus mengikatmu? Dan, mengapa hingga saat ini kamu tak benar-benar menjauh? Kadang, jarak tak menjadi alasan untuk kita saling berbagi. Dalam serba ketidakjelasan, aku dan kamu masih saja menjalani... menjalani sesuatu yang tak tahu harus disebut apa. Tapi, katamu, masih ada rasa nyaman ketika kita kembali berdekatan. Terlalu tololkah jika kusebut belahan jiwa? Keterikatan aku dan kamu tak ada dalam status, tapi jiwa kita, napas kita, kerinduan kita; miliki denyut dan detak yang sama.

Tidak usah dibawa serius, hanya beberapa rangkaian paragraf bodoh untuk menemani rasa sepi yang sudah lama sekali datang menghantui. Sejak kamu tak lagi di sini, sejak aku dan kamu memilih jalan sendiri-sendiri, aku malah sering main dengan sepi, sulit untuk dipungkiri. 

Sebentar lagi bulan Mei . Ingat apa yang kita lakukan dua tahun yang lalu? 

Tatapanmu terlihat semakin serius, semakin dalam, dan kamu berucap pelan-pelan. Iya, saat itu aku dan kamu menjadi kita. Indah. Tapi, masa lalu, dulu. Sudah kubilang dari awal kan, "dulu" itu memang menyenangkan :")

Aku Memang Tidak Seperti Mantanmu :")

Suara mahasiswa yang berdengung membuat Bianca pusing tujuh keliling. Bianca adalah wanita plegmatis yang kadang membenci keramaian. Ia hanya duduk sendirian, merasakan angin yang bermain dengan rambut hitamnya. Kevin berjalan di depannya namun kevin tak peduli, tak mau menatap sosok Bianca yang menunggunya sejak tadi.

Bianca terbangun dari bangkunya, ia berlari-lari kecil mengejar sosok Kevin, " Kamu kenapa kahir-akhir ini cuek banget ? "

Kevin mengarahkan pandangannya pada Bianca, " Emang kenapa? kamu kan cuma pacarku bukan istriku, salah kalau aku nyuekin kamu ? "

Bianca menghentikan langkahnya, ia tertunduk seusai mendengar ucapan yang terlontar begitu saja dari bibir Kevin, " Kapan kamu mau menghargai aku sebagai sosok yang penting dalam hidupmu ? "

" Kapan ? kenapa tanya gitu ? Bukankah aku selalu menghargai kamu ? " tanya Kevin dengan nada keheranan.

"Padahal, apa yang tidak ku ketahui tentangmu ? semua hal tentangmu tak pernah kecil dimataku. Aku selalu menghargai kamu, menghormati posisimu dan masih memperlakukanmu dengan baik meskipun kadang kau tak menghargai aku. " Jelas Bianca dengan matanya yang mulai berair.

" Wanita bodoh !!! jangan jadikan air matamu sebagai senjata pamungkasmu ! Kamu cengeng ! kamu berbeda dengan mantanku. Dia jauh lebih kuat daripada kamu ! " Tungkas kevin dengan nada tinggi.

" Ya .. aku memang tidak seperti mantanmu ! aku tidak secantik dan setegar dia. Aku memang tidak secerdas dan semandiri dia. Aku jelas-jelas tak luar biasa seperti dia. Tapi, dia hanya masa lalumu. Sedangkan aku dalah masa kini yang mungkin akan kau bawa ke masa depanmu ! " Bianca menatap Kevin dengan tatapan serius. 

" Kamu memang tidak seperti mantanku. " ucap Kevin singkat.

" Aku memang tidak seperti mantanmu. Aku adalah aku, yang akan luar biasa dengan jalan dan pilihanku sendiri. Kenyataannya kamu memang tidak bisa melupakan mantanmu dan masa lalumu. " ujar Bianca.

" Bukan urusanmu ! "

" Dan, aku sangat kecewa pada diriku sendiri, kenapa aku sulit membuatmu lupa pada masa lalumu."

" Masa lalu bukan untuk dilupakan, masa lalu ada untuk dijadikan pelajaran."


Mata Bianca memerah, cahayanya yang bening tak lagi bersinar dari bola matanya, "Aku juga kecewa pada diriku sendiri, kenapa aku sulit membuatmu jatuh cinta kepadaku lalu melupakan mantanmu |?"

" Sudahlah , jangan menangis " ucap Kevin perlahan.

" Kita akhiri saja semua kalau memang kamu masih memikirkan masa lalumu. Kita akhiri saja semua kalau memang kau lebih merindukan masa lalumu. Kita cukupkan sampai disini, kalau masa lalumu lebih mampu untuk membahagiakanmu."

" Maksudku bukan seperti itu, Sayang .. Maaf yaa .. ? "

" Percuma ada kata maaf jika kau tak mau berubah. Percuma ada kata maaf jika kau terus mengulang kesalahan yang sama. Kembalilah pada masa lalumu, aku juga tak membutuhkan orang sepertimu di masa depanku. " cetus Bianca.

Kevin tak menyangka bahwa wanita yang beberapa bulan ini disiksanya juga mampu menyiksanya dengan cara yang menyakitkan. Hukum karma ternyata berlaku, jika seseorang menyakiti hati orang, maka akan ada saatnya hatinya juga akan tersakiti. Kevin hanya mematung menatap Bianca, menatap punggungnya hilang dari pandangannya.


****

Jam weker melakukan tugasnya dengan baik, celotehnya yang berisik membangunkan Kevin yang masih saja terantuk di ujung kantuk. Dimatikannya jam weker itu, ditariknya lagi selimut yang sejak tadi malam menghangatkan tubuhnya. Matanya menatap jam dinding, sudah pukul 07.00 pagi. Gerakan reflek, ia menatap handphone, tak ada pesan singkat dari Bianca. tak ada lagi Bianca yang memerhatikan sosoknya. Ia merasa kesepian. Rasa membutuhkan dan perasaan akan kehilangan baru ia rasakan ketika ia telah kehilangan.

 Tak ada Bianca

Kevin kembali menghela napas. ia menarik slimut menutupi wajahnya. Ada gerimis kecil dimatanya, gerimis itu bernama Air Mata :')

Jumat, 01 Maret 2013

KENAPA HARUS KAMU ?

Kenapa harus kamu ?
Yang tiba-tiba datang lalu menyelonong masuk ke dalam pintu hatiku
Kenapa harus kamu ?
Yang mengisyaratkan hati untuk menyimpan perasaan ini
Kenapa harus kamu ?
Yang mampu memaksa otakku agar tak berhenti memikirkanmu
Apakah tak ada orang lain selain kamu ?
Yang bisa membuatku jatuh cinta hingga merasakan luka

Kenapa harus kita ?
Kenapa bukan mereka ?
Kenapa aku bertanya ?
Kenapa kau tak pernah menjawab ?
Kenapa kau tak pernah memberiku isyarat ?

Aku telah melawan rasa takutku , hanya untuk mencintaimu ...
Lalu, kenapa harus kamu ?
Yang mampu mengubah rasa takutku menjadi sebuah keberanian kecil,
Mengubah badanku yang menggigil menjadi senyum tipis walau secuil

Jangan biarkan aku terus bertanya .. Sayaanggg ..
Jangan biarkan aku terus mencari hal yang sebenarnya tak ada
Jangan biarkan aku terus merasakan perasaan yang sebenarnya tak kau rasakan
Jangan biarkan aku terus menunggu
Jangan biarkan waktuku terus terbuang , hanya karena kamu yang sulit aku lupakan

Kenapa harus kamu ?
Yang mampu membuatku melamun sepanjang waktu
Kenapa harus kamu ?
Yang menjadi sebab air mataku terjatuh :")


24062011